Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/847
Title: Bias jender dalam penerjemhan: kajian hermeneutik terhadap terjemahan tafsir al-Azhar
Authors: Mohamad Heri Azhari
Advisors: Sukron Kamil
Issue Date: 5-Oct-2012
Publisher: Fakultas Adab Dan Humaniora, 2010
Series/Report no.: 0110-09-6759;2317 TAR a
Abstract: Di antara pemahaman yang bias jender salah satunya adalah pemahaman tentang kepemimpinan perempuan. Di kalangan masyarakat diajarkan bahwa perempuan itu tidak layak jadi pemimpian karena tubuhnya sangat lembut dan lemah serta akalnya pendek. Lalu diperkuat lagi dengan ayat yang menurut sebagian ulama, menjelaskan bahwa laki-laki adalah “pemimpin” bagi perempuan, yaitu QS. Al- Nisa [4]: 34. Inilah yang akan Penulis angkat dalam penulisan ini. Dan, yang menjadi objek kajian ini adalah terjemahan Tafsir Al-Azhar karya Dr. HAMKA. Dalam tafsirnya, HAMKA menerjemahkan QS. Al-Nisa [4]: 34: 􀂳Laki-laki adalah pemimpin atas perempuan-perempuan, lantaran Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas yang sebahagian, dan dari sebab apa yang mereka belanjakan dari harta benda mereka.􀂴 HAMKA menerjemahkan kata qawwamûn dengan “pemimpin”. Dia menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ayat ini adalah jawaban dari pertanyaan apakah sebab yang terpenting dalam pembagian harta pusaka laki-laki mendapat dua kali bagian perempuan, mengapa laki-laki membayar mahar, mengapa kepada laki-laki jatuh perintah supaya menggauli istri dengan baik, dan mengapa laki-laki diizinkan beristri sampai empat orang asal sanggup adil sedang perempuan tidak? Sebab, lanjut HAMKA, laki-laki itulah yang memimpin perempuan, bukan perempuan yang memimpin laki-laki, dan bukan pula sama kedudukan. Dengan demikian, dalam kasus ayat di atas, HAMKA menolak dengan keras kepemimpinan perempuan. Menurutnya, hanya laki-lakilah yang harus menjadi pemimpin. Jika HAMKA membandingkan ketika menerjemahkan ayat di atas dengan ayat tentang hak laki-laki dan perempuan, QS. At-Taubah [9]: 71, mungkin terjemahannya tidak akan demikian. Karena, dalam penerjemahan tentang hak laki-laki dan perempuan, kemudian diperkuat dengan tafsirnya, HAMKA mengakui bahwa yang dapat menjadi pemimpin bukan hanya laki-laki atas perempuan, melainkan sebaliknya, perempuan bisa menjadi pemimpin atas laki-laki. Karena keduanya memiliki tanggung jawab yang sama; amar ma’ruf nahi mungkar. Sedangkan budaya yang mempengaruhi ideologi HAMKA tampaknya masih dikuasai oleh budaya patriarki. Di mana, pemahamannya telah dipengaruhi oleh ulama-ulama klasik yang masih kental dikuasai oleh budaya patriarki. Sehingga penerjemahan dan penarsirannya pun mengandung unsur patriarki. Dalam kasus ayat ini, HAMKA telah menyebarkan konsep mengenai superioritas laki-laki atas perempuan. Maka, penerjemahannya juga menunjukkan adanya superioritas laki-laki. Dengan demikian, secara hermeneutis
Description: ix, 82 p.; 28 cm.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/847
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
94919-MOHAMAD HERI AZHARI-FAH.pdf523.16 kBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.