Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/52297
Title: Asketisme Semar: Pergumulan Agama-Sosial
Other Titles: Lembar Hasil Penilaian Sejawat Sebidang atau Peer Review Karya Ilmiah: Jurnal Nasional
Authors: Muhammad Sungaidi
Advisors: --
Keywords: Semar;Wayang;Etnis;Jawa, Indonesia.
Issue Date: 23-Jan-2020
Publisher: Himpunan Peminat Ilmu Ushuluddin (HIPIUS) Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Series/Report no.: Refleksi: Jurnal kajian Agama dan Filsafat;https://doi.org/10.15408/ref.v18i2.12823
Abstract: ASKETISME SEMAR: PERGUMULAN AGAMA-SOSIAL Muhammad Sungaidi UIN Syarif Hidayatulah Jakarta Abstract: Since prehistoric times ethnic and Javanese communities have been a religious and godly society. The divine value, monotheism, which is embedded in the spirit of Javanese people can be seen from cultural values, for example Wayang. Wayang as a medium for the cultivation of the divine spirit and social-society values cannot be separated from Wali Songo’s ingenuity, especially Sunan Kalijaga. Cultural values will be more easily accepted by the public if their delivery is subtle, persuasive and in accordance with the psychology of ethnic (Javanese) who prioritize subtlety of mind and taste. Some wayang figures who are quite familiar, favorite and have sacred value are Semar. Semar became the main character in everything, both as an ordinary figure and a role as a servant, state adviser and spiritual figure. In the wayang narrated that Semar always soothes and water the hearts of every human heart that is barren, restless, and far from God. Keywords: Semar, Wayang, Ethnic, Javanese, Indonesian. Abstrak: Sejak zaman pra-sejarah etnis dan komunitas Jawa merupakan masyarakat yang religius dan berke-Tuhan-an yang Maha Esa. Nilai ketuhanan, tauhid, yang tertanam di ruh masyarakat Jawa bisa dilihat dari nilai kebudayaan, misalnya Wayang. Wayang sebagai media penanaman ruh ketuhanan dan nilai sosial-kemasyarakatan tidak lepas dari kecerdikan Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga. Nilai-nilai kultural akan lebih mudah diterima masyarakat bila penyampaiannya dengan cara halus, persuasif dan sesuai dengan psikologi etnis (Jawa) yang lebih mengedepankan kehalusan budi dan rasa. Beberapa tokoh wayang cukup familiar, favorit dan mempunyai nilai sakral adalah Semar. Semar menjadi tokoh utama dalam segala hal, baik sebagai tokoh biasa dan berperan sebagai abdi, penasehat kenegaraan maupun tokoh spiritual. Dalam pewayangan diceritakan bahwa Semar selalu menyejukkan dan menyirami hati setiap hati manusia yang gersang, gelisah, dan jauh dari Tuhan. Kata Kunci: Semar, Wayang, Etnis, Jawa, Indonesia.
Description: 20 halaman (181-200),; Volume 18, No. 2, Oktober 2019
metadata.dc.description.uri: http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/refleksi/index
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/52297
ISSN: E-ISSN: 2714-6103; P-ISSN: 0215-6253
Appears in Collections:Artikel

Files in This Item:
File SizeFormat 
Peer Review_Asketisme Semar Pergumulan Agama Sosial-FDK.pdf631.35 kBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.