Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/51842
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorImam Sujokoid
dc.contributor.authorFaiz Abdullah Shahidid
dc.date.accessioned2020-08-12T07:38:57Z-
dc.date.available2020-08-12T07:38:57Z-
dc.date.issued2020-08-12-
dc.identifier.urihttp://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/51842-
dc.description92 halid
dc.description.abstractIddah adalah dampak yang wajib dijalani oleh perempuan (istri) setelah ditinggal suaminya, baik ditinggal karena talak ataupun wafat. Islam telah mensyariatkan iddah terhadap p tan umat manusia dan agar terjauh dari percampuran nasab (keturunan). Dalil dalil iddah banyak disebutkan dalam al-Quran dan al-Hadist.Iddah adalah dampak yang wajib dijalani oleh perempuan (istri) setelah ditinggal suaminya, baik ditinggal karena talak ataupun wafat. Islam telah mensyariatkan iddah terhadap p tan umat manusia dan agar terjauh dari percampuran nasab (keturunan). Dalil dalil iddah banyak disebutkan dalam al-Quran dan al-Hadist. Dan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengertian iddah dan pandangan fuqaha mengenai massa iddah dan hal-hal yang berkaitan dengan iddah serta menjelaskan hikmah maqasidhiyah dari perbedaan pendapat fuqaha mengenai massa iddah. Dalam penulisan skripsi ini peneliti menggunakan metode deskriptif analisis dalam menjelaskan pengertian iddah, jenis hal yang berkaitan dengan iddah. Dalam metode ini, penu dengan maqashid iddah , terkait dengan hikmah dan tujuan dari iddah dalam islam. Adapun metodologi pemunulisan skripsi ini adalah library risearch, dimana penulis mengumpulkan refernsi buku, jurnal, tesis yang berkaitan dengan penelitian ini. Salah satu hasil penelitian ini adalah bahwa perbedaan masa iddah perempuan terletak pada penafsiran lafal quru’ yang mempunyai dua makna yang berbeda, sebagaimana tertuang dalam surah al-Baqarah ayat 228. Perbedaan makna secara bahasa ini kemudian berpengaruh kepada perbedaan pendapat diantara para ulama dalam menetapkan masa iddah wanita yang dicerai suaminya. Dalam pandangan madzhab al-Malikiyah dan asy-Syafi’iyah, al-qur’u berati ath-thuhru (suci), maksudnya adalah masa suci dari haid. Jadi, tiga kali quru’ artinya adalah tiga kali suci dari haid. Sedangkan dalam pandangan Mazhab al-Hanafiyah dan al-Hanabilah, al-qur’u justru bermakna haid, atau hari-hari dimana seorang wanita menjalani masa haidnya.id
dc.language.isoarid
dc.publisherFakultas dirasat islamiahid
dc.titleIkhtilāf Zaman al-Iddah wa al-Ahkām al-Mutarattabah ‘Alaihā Dirāsah Tāhlīlīyah Maqāshidiyyahid
dc.title.alternativeal-Iddah wa al-Ahkām al-Mutarattabahid
dc.typebachelorThesisid
Appears in Collections:Tesis

Files in This Item:
File SizeFormat 
PRINT-FAIZ ABDULLAH S-FDI ......pdf2.56 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.