Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/51506
Title: JARINGAN KEILMUAN GURU THARĪQAH ‘ALAWIYYAH DI BETAWI ABAD KE-19 DAN 20 M
Authors: Mabda Dzikara
Advisors: Wiwi Siti Sajaroh
Issue Date: 15-Jul-2020
Abstract: Sebagai sebuah jalan sufi, Tharīqah Alawiyyah merupakan sebuah ajaran yang dibentuk dari perjalanan keluarga Bani Alawi yang memiliki ketersambungan nasab kepada Nabi Muhammad Saw melalui Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir dimana istilah Alawiyyah itu berasal. Tharīqah ini masuk ke Nusantara bersamaan dengan hadirnya para imigran keturunan Hadramaut yang mulai masuk ke Nusantara pada kisaran abad ke- 14-15 M dalam rangka menyebarkan agama Islam. Pada perkembangannya, Tharīqah ini juga berkembang di Betawi bersama para da’i yang juge memiliki afiliasi kepada keluarga Ba’ Alawi Hadramaut yang dikenal dengan panggilan Habib atau Sayyid. Meskipun dalam banyak catatan, masyarakat Betawi tidak begitu tertarik dengan lembaga ketarekatan, tapi pengaruh dari tokoh-tokoh Alawiyyah memberikan karakteristik yang unik dalam pembentukan masyarakata muslim Betawi. Dalam penelitian ini, penulis mencoba untuk menyusun puzzle-puzzle yang terserak dari perjalanan keilmuan para guru Tharīqah Alawiyyah di Betawi pada abad ke-19 dan 20 M, baik genealogi keilmuan yang melingkupinya, jaringan keulamaan yang membentuk karakter Tharīqah ini, tokoh-tokoh utamanya, hingga pengaruhnya kepada model keberislaman masyarakat di Betawi pada era itu. Dalam melihat jaringan keilmuan para guru Tharīqah Alawiyyah ini, penulis mencoba untuk mengurai beberapa aspek yang menjadi objek kajian tentang ketersambungan silsilah keilmuan para tokoh-tokoh Tharīqah Alawiyyah di Betawi pada abad ke-19 dan 20 M dengan jejaring keilmuan di Makkah maupun di Hadramaut yang menjadi pusat pergerakan Tharīqah Alawiyyah, baik itu hubungan guru-murid, nasab maupun keterpengaruhan ajaran Thariqah ini. Kondisi lingkungan Betawi yang sejak awal merupakan kota perdagangan dan pemerintahan, telah menciptakan tradisi masyarakat Betawi yang sebenarnya tidak terlalu dekat dengan lembaga ketarekatan. Walaupun demikian, kita akan melihat bahwa proses tarekat di Betawi kemudian bertransformasi ke dalam kegiatan-kegiatan pengajaran islam dan sosial seperti majlis taklim, madrasah, maulid, dan tabligh akbar, sehingga proses bertarekat tidak lalu dilakukan di dalam ruang-ruang eksklusif, namun menjadi kultur yang hidup pada masyarakat Betawi
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/51506
Appears in Collections:Tesis

Files in This Item:
File SizeFormat 
TESIS MABDA DZIKARA AFI 2016.pdf3.5 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.