Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/49065
Title: Analisis kata ḫizb dalam al-qur’an (pendekatan semantik al-qur’an toshihiko izutsu)
Authors: Asep Ridwan Nugraha
Advisors: Kusmana
Issue Date: 27-Nov-2019
Abstract: Skripsi ini mengkaji kata ẖizb dalam al-Qur‟an. Pada penelitian ini penulis meresepon terkait dua permasalahan yang terjadi, yaitu pertama, pernyataan kontroversi Amien Rais yang melakukan dikotomi terhadap partai politik, dan menjadikan Q.s. al-Mujādilah (58), ayat 19 dan 22 sebagai legitimasinya. Kedua, penggunaan term hizb Allah dan Setan dalam al-Qur‟an sebagai legitimasi untuk menolak multi-partai. Dua fenomena pemaknaan dan penggunaan kata hizb ini, penting untuk dikaji apakah relevan atau tidak dengan makna yang dimaksudkan oleh al- Qur‟an. Untuk menjawab permasalahan ini, penulis menggunakan metode deskriptif-analisis, yaitu dengan menggambarkan data-data dari ayat-ayat terkait ẖizb yang ditemukan secara apa adanya dan merekonstruksinya melalui kategorisasi sesuai data yang didapat, serta dianalisis dengan pendekatan semantik al-Qur‟an Toshihiko Izutsu. Kajian ini menemukan bahwa kata ẖizb dalam konteks al-Qur‟an memiliki makna dasar kumpulan manusia. Kemudian, dalam al-Qur‟an, berdasarkan analisis sintagmatik kata ẖizb berelasi dengan kata Allah, Syaiṯān, Syiya‟ā & Zubarā. Sedangkan melalui analisis paradigmatik, ẖizb berelasi dengan kata ṯāifah, fauz, zumarā, fi‟ah, farȋq/firqah dan syi‟ah. Selanjutnya, melalui kajian historis (sinkronik dan diakronik), kata ẖizb mengalami perkembangan makna. Akan tetapi substansi maknanya tetap sama, hanya penunjukannya saja yang berbeda.Terakhir, welthanschauung dari ẖizb menunjukan kelompok atau golongan yang sangat komitmen terhadap kelompoknya atau sosok yang diikutinya dan memiliki loyalitas yang tinggi dengan mereka yang satu pandangan dengan kelompoknya. Selanjutnya, membawa istilah Ḫizb Allah dan Ḫizb al-Syaiṯan ke dalam ranah politik seperti yang dilakukan oleh Amien Rais adalah tidak tepat dan keliru. Karena dalam konteks ini, al-Qur‟an sedang membicarakan ranah keimanan atau akidah yang sifatnya prinsip. Sedangkan ranah politik (dalam konteks di Indonesia) sifatnya ijtihadi. Oleh karenanya, beda pilihan partai tidak menjadikan beda akidah atau keimanan. Demikian juga penggunaan istilah tersebut sebagai legitimasi untuk menolak multi-partai adalah pemahaman yang keliru.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/49065
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
ASEP RIDWAN NUGRAHA-FUF.pdf1.28 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.