UIN Repository
 

Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta >
11 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik >
1120 Ilmu Politik >
Skripsi >

Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/4770

Title: Menurunnya legitimasi Kiai NU dalam dinamika politik Partai Kebangkitan Bangsa
Advisor: Hanafie, Haniah
Authors: Wibowo, Ahmad Andi
Keywords: dinamika politik
Issue Date: 5-Oct-2012
Publisher: Jakarta: Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Uin Syarif Hidayatullah, 2011
Series/Report no.: 0111-11-10512;139 IP i
Abstract: Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dideklarasikan pada 23 Juli 1998 oleh tokoh tokoh terkemuka NU dan ditahbiskan sebagai satu-satunya wadah berpolitik bagi anggota organisasi sosial keagamaan tersebut. Berpijak pada AD/ART dan Mabda Siyasi, basis ideologi PKB adalah Pancasila dan memiliki sifat sebagai partai terbuka dalam pengertian lintas agama, suku, ras dan lintas golongan yang dimanifestasikan dalam bentuk visi, misi, program perjuangan, keanggotaan dan kepemimpinan. Sejalan dengan kultur di NU, kiai menduduki posisi dan peran yang sangat penting di PKB.Secara struktural, kiai ditempatkan pada Dewan Syuro, lembaga perumus kebijakan tertinggi partai sekaligus pemegang otoritas moral untuk mengawasi pergerakan partai dalam upaya menggapai cita-cita politiknya. Dalam perjalanan politik selanjutnya, konflik demi konflik menerpa PKB. Sampai sekarang, ada tiga episode konflik. Pertama, Mathori Abdul Djalil. Kedua, Alwi Shihab dan Ketiga, Muhaimin Iskandar. Setiap konflik berimbas pada keberadaan kiai, baik yang ada dalam struktur maupun di luar struktur partai. Penelitian ini mencoba menguak peran politik kiai sekaligus menguraikan situasi yang terjadi dalam konflik PKB. Penelitian ini memakai model deskriptif kualitatif. Beberapa pokok kesimpulan dari penelitian ini, adalah: Pertama, PKB sebagai partai modern gagal melakukan konsolidasi dan membangun sistem. Kedua, akar konflik internal di tubuh PKB disebabkan oleh benturan kepentingan pragmatis dari masing-masing kader partai yang tengah memegang kekuasaan. Ketiga, terjadi perubahan posisi dan peran kiai dalam konflik PKB. Semula keberadaan kiai dalam partai didesain sebagai sumber rujukan untuk pengambilan kebijakan strategis partai, menjadi mediator dalam penyelesaian persoalan di internal maupun eksternal serta sebagai perekat keutuhan partai. Dalam perkembangannya, sebagian besar kiai justru menjadi bagian dari persoalan atau bagian dari konflik tersebut. Keempat, pola konflik yang terbangun di PKB bersifat struktural dan kultural. Konflik yang membelah struktur partai mengakibatkan dualisme kepengurusan dan pertikaian sesama kader. Dalam tataran kultural, konflik telah membuat polarisasi di kalangan kiai dan santri. Kelima, konflik internal PKB memperkuat pandangan bahwa proses institusionalisasi dalam partai tidak berjalan sebagaimana mestinya. Institusi berubah menjadi sangat personal. Imbasnya struktur partai tidak berfungsi secara optimal. Keenam, menurunnya bentuk legitimasi kiai NU baik yang berada dalam struktur PKB maupun yang diluar struktur, terbukti dengan berkurangnya perolehan suara pada pemilu 2009. Menilik catatan sejarah konflik PKB, pada akhirnya muara konflik tidak mencapai tahap integrasi namun justru memilih segregasi sebagai jalan terakhir penyelesaiannya.
Description: x, 89 hal.; 28 cm.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/4770
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:

There are no files associated with this item.

Items in UIN Repository are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.