Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/46212
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorMiftahuddinid
dc.contributor.authorEdwin Indrawardhanaid
dc.date.accessioned2019-07-23T04:10:43Z-
dc.date.available2019-07-23T04:10:43Z-
dc.date.issued2018-08-08-
dc.identifier.urihttp://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/46212-
dc.descriptionxiv, 112 hlm.; 29 cm.id
dc.description.abstractMeningkatnya jumlah dual-earner couples dan single-parent families, beserta perubahan sikap di dalam keluarga dan tempat kerja telah mengubah hubungan antara domain pekerjaan dan keluarga. Perubahan sikap itu, memungkinkan dapat mengakibatkan seseorang lebih memprioritaskan karir dibandingkan keluarga, ataupun sebaliknya, hal ini akan berdampak, individu lebih sulit untuk menyeimbangkan antara tuntutan pekerjaan dan keluarga dan pada akhirnya akan menciptakan work-family conflict (Dolcos & Daley, 2009). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh masing-masing independent variable (locus of control, job insecurity dan faktor demografis) terhadap dependent variable (work-family conflict). Sampel berjumlah 240 perawat RSUD Jakarta Barat yang diambil dengan teknik non-probability sampling, yakni convenient sampling. Instrument pengumpulan data menggunakan Work-family scale yang dikembangkan oleh Carlson et al. (2003), Internality, powerfull others, dan chance (IPC) dikembangkan oleh Lavenson (1981), dan skala job insecurity yang dikembangkan oleh Ashford, Lee, dan Bobko (1989). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel locus of control dan job insecurity terhadap dv dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 atau p < 0,05 dan proporsi varians seluruh variabel sebesar 0.418 atau 41.8%, sedangkan 58.2% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Jadi hipotesis nihil (H0) yang ada pada hipotesis mayor dalam penelitian ini ditolak. Subjek pada penelitian ini yaitu perawat, sehingga disarankan pada penelitian selanjutnya menggunakan sampel lain, seperti dokter seperti penelitian yang dilakukan Razak et al. (2011), guru seperti penelitian Richter et al. (2015), atau Pegawai pemerintahan seperti yang dilakukan Abdulqadeer (2005), sehingga memiliki kemungkinan akan memperoleh hasil yang lebih bervariasi. Untuk menurunkan work-family conflict pada perusahaan yaitu dengan meningkatkan locus of control internal, dengan cara melakukan program untuk membangkitkan locus of control internal berupa kegiatan konseling (El-Sayeed & Abdel-Aleem, 2014) yang salah satunya meninjau permasalahan locus of control. Serta menurunkan job insecurity dengan cara mengadakan Sosialisasi tentang pekerjaan yang dimiliki, agar informasi terkait pekerjaan, tanggung jawab, dan peraturan dengan informasi yang lebih jelas dan mencegah kurangnya informasi yang diterima oleh pekerja, dengan sosialisasi ini diharapkan agar terjadinya kesepakatan pekerjaan yang diterima.id
dc.description.urihttp://repository.uinjkt.ac.id/dspace/submit#nullid
dc.language.isoidid
dc.publisherJakarta : Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullahid
dc.subjectlocus of controlid
dc.subjectjob insecurityid
dc.subjectdemografisid
dc.subjectwork-family conflictid
dc.titlePengaruh locus of control, job insecurity dan faktor demografis terhadap work-family conflictid
dc.typebachelorThesisid
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
EDWIN INDRAWARDHANA-FPSI.pdf2.96 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.