Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/45168
Title: Nafkah iddah terhadap istri nusyuz (analisis Putusan No.2707/Pdt.G/2017/PA.JT)
Authors: Ratnasari
Advisors: Afwan Faizin
Keywords: Nafkah;Iddah;Nusyuz
Issue Date: 25-Jul-2018
Publisher: Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Abstract: Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui pandangan hukum Islam dan hukum positif tentang nafkah iddah terhadap istri nusyuz dan dasar hukum pertimbangan hakim Pengadilan Agama Jakarta Timur dalam putusan nomor 2707/Pdt.G/2017/PA.JT untuk membebankan suami membayar nafkah iddah kepada mantan istrinya, meskipun termohon tidak menuntut nafkah iddah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Yuridis Normatif. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Kualitatif. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah dokumen putusan perkara No.2707/Pdt.G/2017/PA.JT. Sedangkan sumber data sekundernya adalah Al-Qur’an, Buku-Buku Teks, Jurnal, dan Kompilasi Hukum Islam. Teknik penulisannya berdasarkan Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Para ulama mazhab sepakat bahwa istri yang melakukan nusyuz tidak berhak atas nafkah, tetapi mereka berbeda pendapat tentang batasan nusyuz yang mengakibatkan gugurnya nafkah. Hanafi berpendapat manakala istri mengeram dirinya dalam rumah suaminya, dan tidak keluar dari rumah tanpa izin suaminya, maka dia masih disebut patuh (muthi’ah), sekalipun dia tidak bersedia dicampuri tanpa dasar syara’ yang benar. Penolakannya yang seperti itu, sekalipun haram, tetap tidak menggugurkan haknya atas nafkah. Bagi Hanafi, yang menjadi sebab keharusan memberikan nafkah kepadanya adalah beradanya wanita tersebut di rumah suaminya. Persoalan ranjang dan hubungan seksual tidak ada hubungannya dengan kewajiban nafkah. Sedangkan mazhab Syafi’i sepakat bahwa, manakala istri tidak memberi kesempatan kepada suami untuk menggauli dirinya dan berkhalwat dengannya tanpa alasan berdasar syara’ maupun rasio, akan dia dipandang sebagai wanita nusyuz yang tidak berhak atas nafkah. Yang menjadi pertimbangan Majelis Hakim Jakarta Timur yang menjatuhkan putusan untuk tetap memberikan nafkah iddah kepada Termohon selaku istri yang melakukan nusyuz kepadanya. Alasan hakimnya yaitu Hakim lebih condong mengikuti pendapat Mazhab Hanafi karena menurut Mazhab Hanafi apabila seorang istri, mengikatkan (tertahan) dirinya di rumah suaminya dan dia tidak keluar tanpa izin suaminya, maka istri seperti ini dianggap tidak melakukan nusyuz.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/45168
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
RATNASARI-FSH.pdf2.91 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.