Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/45015
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorAzyumardi Azraid
dc.contributor.advisorIik Arifin Mansurnoorid
dc.contributor.authorGregorius Soetomoid
dc.date.accessioned2019-04-11T03:58:27Z-
dc.date.available2019-04-11T03:58:27Z-
dc.date.issued2017-
dc.identifier.urihttp://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/45015-
dc.description.abstractPara ilmuwan sejarah selama ini memegang kesatuan dan kontinuitas historis sebagai kebenaran. Ada anggapan bahwa sejarah memiliki ‘konstanta’. Disertasi ini menjelaskan dan membuktikan sebaliknya. Tulisan ini melihat perjalanan sejarah pada kenyataannya diisi dengan berbagai keterpatahan, perbedaan dan penyimpangan. Ketidakpastian ini berlangsung ketika ‘bahasa’ menjadi fokus kajian ilmu sejarah. Michel Foucault (1926 – 1984), khususnya dalam L'archéologie du savoir (1969), menolak prakonsepsi mengenai kesatuan dan kontinuitas sejarah yang selama ini justru dijadikan pegangan kebenaran para sejarawan. Ia melihat perjalanan sejarah pada kenyataannya diisi dengan berbagai keterpatahan, perbedaan dan penyimpangan yang menjadi ciri-ciri ketidakpastian dalam ilmu sejarah sekarang ini. Pembalikan ini berlangsung karena pembalikan fokus studinya pada bahasa dalam ilmu sejarah. Foucault menyebut ini sebagai metode Arkeologi Pengetahuan. Permasalahan yang hendak dijawab dalam disertasi ini bisa dirumuskan demikian: “Bagaimana Michel Foucault, khususnya dalam L'archéologie du savoir, yang bertumpu pada analisa bahasa menjelaskan keanekaragaman dalam sejarah Islam Marshall G.S. Hodgson?” Pertanyaan mayor ini diuraikan ke dalam tiga pertanyaan minor. Tiga pertanyaan ini masing-masing mencerminkan tiga dimensi ‘keanekaragaman’ pemikiran Arkeologi Pengetahuan Foucault (strukturalisme- poststrukturalisme, postmodernisme, dan filsafat sejarah). Pertama, bagaimana Hodgson, dalam posisi strukturalis, menulis sejarah Islam dengan membangun sistem diskursus untuk menjelaskan sebuah makna; tetapi pada saat yang sama, ia dalam posisi poststrukturalis memperlihatkan inkoherensi dalam sistem diskursus yang ditandai dengan pluralitas makna? Kedua, bagaimana menjelaskan bahwa struktur sosial dalam sejarah Islam tidak pernah bisa lepas dari rantai kekuasaan yang adalah dimensi konstitutif dalam diskursus? Ketiga, bagaimana membuktikan bahwa setiap era dalam sejarah Islam memiliki epistemenya masing-masing yang khas dan keanekaragaman cara berpikir yang mengkerangkakan terbentuknya pernyataan dan diskursus? Kesimpulan besar dan temuan Disertasi: Analisa bahasa Michel Foucault menyingkapkan adanya keanekaragaman dalam struktur pemikiran, ideologi, dan kerangka berpikir sejarah Islam Marshall G.S. Hodgson (1922 – 1968). Metodologi penelitian ini pada prinsipnya menjelaskan tiga perspektif pemikiran filsafat Foucault. Pada saat yang sama tiga pendekatan Hodgson dalam menulis sejarah Islam juga juga diuraikan. Keduanya, secara metodologis dan substantif, memiliki titik temu dan titik pisah, yang menjadi bahasan seluruh kajianid
dc.language.isoidid
dc.publisherSekolah Pascasarjana UIN Jakartaid
dc.subjectHistoriografi Islamid
dc.subjectPoststrukturalismeid
dc.subjectMichel Foucaultid
dc.titleBAHASA, KEKUASAAN, DAN SEJARAH :Historiografi Islam Marshall G.S. Hodgson dalam Perspektif Kajian Poststrukturalisme Michel Foucaultid
dc.typedoctoralThesisid
Appears in Collections:Disertasi

Files in This Item:
File SizeFormat 
Gregorius Soetomo_Fix.pdf518.66 kBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.