Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/43964
Title: Taqiyyah dalam pandangan mufassir syi’i klasik dan kontemporer (studi kitab tafsir majma' al-bayan dan tafsir al-mizan)
Authors: Ahmad Multazam
Advisors: Muslih
Issue Date: 10-Sep-2018
Publisher: Jakarta : Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah
Abstract: Taqiyyah merupakan salah satu doktrin suci Syi‟ah yang menjadi Isu sentral yang tidak bisa dipasahkan dari sekte Syi‟ah sendiri, menurut kaum Syi‟ah taqiyyah itu merupakan salah satu prinsip-prinsip keimanan yang paling pokok. Dalam hal ini penulis akan meneliti ayat-ayat taqiyyah dengan membandingkan mufassir kalangan Syi‟ah klasik dan kontemporer yaitu karya al-Faḍl bin Ḥasan al-Ṭabarsī dalam kitabnya Majma‘ al-Bayān fi Tafsīr al-Qur’ān dan karya Muḥammad Ḥusayn al-Ṭabāṭabā„ī yaitu al-Mīzān fī Tafsīr al-Qur’ān. Sehingga dapat diketahui apakah dalam penafsirannya mereka berdua ada perbedaan penafsiran atau lebih condong ke pembelaan mazhabnya ataupun sebaliknya. Terkait jenisnya, penelitian ini termasuk dalam kategori kepustakaan (library research) dan sifatnya adalah deskriptif. Penulis menggunakan pendekatan metode muqāran (membandingkan), dengan teknik pengumpulan data dan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku dan literatur-literatur yang berhubungan dengan masalah terkait. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh beberapa hasil yaitu terdapat perbedaan diantara kedua penafsir tersebut. Al-Ṭabarsī mengatakan orang yang dipaksa untuk mengucapkan kalimat kafir dengan jalan taqiyyah itu dibenci (makruh), karena perbuatan yang sebaiknya tidak dilakukan, akan tetapi apabila terdesak dengan suatu keadaan dan mendapat siksaan yang tak ada hentinya, maka dibolehkan untuk mempraktekkan taqiyyah. Dengan syarat baṭinnya tetap tenang dengan penuh keimanan dan berlawanan dengan sikap ẓāhīr-nya yang mengakui kekafiran dan mengikuti keinginanya, maka tidak ada dosa atasnya. Sedangkan al-Ṭabāṭabā‟ī mengatakan orang dipaksa untuk mengucapkan kalimat kafir dan mempraktekkan taqiyyah maka diperbolehkan dan dimaafkan syara’. Mempraktekkan taqiyyah boleh dilakukannya dalam keadaan setiap keadaan yang berkemungkinan terdapat suatu bahaya dan kesulitan, karena al- Ṭabāṭabā‟ī mengatakan bahwa taqiyyah diperbolehkan dalam setiap ihwal, agar seseorang tidak jatuh dalam keadaan sulit atau berbahaya, dan Allah telah menghalalkannya.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/43964
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
AHMAD MULTAZAM-FU.pdf6.4 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.