Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/43646
Title: Konstruksi sosial pemaknaan pangsi jawara betawi: penguatan identitas etnis Betawi dalam menghadapi globalisasi
Authors: Wiqoyatul Amanah
Advisors: Bambang Ruswandi
Keywords: konstruksi sosial; makna pangsi, jawara Betawi; penguatan; etnis Betawi; globalisasi
Issue Date: 31-May-2018
Publisher: Jakarta : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah
Abstract: Skripsi ini menganalisa konstruksi sosial yang terjadi pada pangsi Betawi dan penguatan identitas yang dilakukan oleh etnis Betawi dalam menghadapi globalisasi. Tujuan penelitian ini ialah mendeskripsikan bagaimana pangsi Betawi dikonstruksi secara sosial, baik oleh jawara Betawi maupun masyarakat secara umum dan resistensi yang dilakukan Betawi sebagai upaya penguatan identitasnya sebagai budaya lokal-daerah yang bertahan dalam lingkaran globalisasi saat ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi sebagai data primer serta studi dokumentasi dan studi pustaka sebagai data pendukung. Kerangka teori yang digunakan adalah teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thoman Luckmann. Temuan dari penelitian ini adalah pada fase eksternalisasi berawal dari melakukan kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan dan memberdayakan budaya Betawi seperti berdagang pangsi, membuka Padepokan dan mengajar silat, serta melakukan kegiatan bakti sosial. Fase berikutnya yakni objektivasi dimana jawara Betawi melakukan ritual yang lambat laun menjadi suatu pembiasaan, selain itu penggunaan atribut pangsi yang selalu dikenakan dalam kehidupan sosial sebagai proses identitasnya sebagai jawara Betawi. Pada fase terakhir yakni internalisasi menjelaskan bahwa munculnya perasaan senang karena lahir dan dibesarkan di lingkungan Betawi, sehingga rasa cinta pada budayanya memunculkan perasaan gengsi dan bangga pada diri jawara Betawi. Makna pangsi Betawi pada awal sebelum adanya konstruksi sosial dianggap sebagai sebuah trend yang kuno, jadul, dan tidak dianggap modern sehingga minat pada pangsi Betawi menurun. Setelah adanya konstruksi yang beriringan dengan munculnya Perda tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi No. 4 Tahun 2015, makna pangsi Betawi bergeser dan dianggap sebagai pakaian yang nge-trend, keren, dan modis sehingga memiliki nilai estetika yang tinggi. Terakhir, dalam menanggapi isu globalisasi, reaksi yang dilakukan penggiat seni dan jawara Betawi adalah melakukan penguatan terhadap identitas Betawi dengan beberapa cara seperti membuat buku tentang Betawi, website Betawi, silaturrahmi antar komunitas Betawi, mengadakan festival, lebaran pendekar Betawi, pesta rakyat Betawi, dan parade Kebetawian juga menggunakan simbol atribut pangsi dalam kehidupan sehari-hari. Cara tersebut sebagai salah satu upaya dalam menguatkan identitas Kebetawiannya di tengah homogenisasi budaya.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/43646
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
WIQOYATUL AMANAH-FISIP.pdf10.6 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.