Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/43154
Title: Strategi framing HTI, FPI dalam aksi damai 411: perspektif gerakan sosial
Authors: Moh. Faisal Asadi
Advisors: M. Hasan Anshori
Keywords: aksi damai 411; penistaan agama; framing strategy
Issue Date: 22-Mar-2018
Publisher: FISIP UIN Jakarta
Abstract: Skripsi ini mengulas gerakan sosial di Indonesia yang secara khusus mengenai “Strategi Framing HTI, FPI dalam Aksi Damai 411: Perspektif Gerakan Sosial”. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan strategi yang digunakan oleh ormas keislaman (HTI, FPI) yang berada dibawah payung GNPF-MUI dalam memprotes pernyataan Basuki Tjahya Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu terkait surat Al-Maidah ayat 51. Penelitian ini menggunakan metodologi pendekatan kualitatif. Teori yang dipakai sebagai pondasi dalam penelitian ini adalah teori framing strategy (strategi pembingkaian), dan fokus pada teorinya David A. Snow „frame alignment process’ (proses penyejajaran bingkai). Teori ini meliputi; penyembatan bingkai (frame bridging), penguatan bingkai (frame amplification) yang meliputi amplifikasi nilai (value) dan keyakinan (belief). Amplifikasi keyakinan meliputi; (a) keseriusan isu yang diangkat; (b) lokus sebab – akibat atau kesalahan; (c) lawan atau target utama dalam aksi kolektis; (d) kemungkinan (peluang) perubahan atau efektifitas aksi kolektif; (e) pentingnya dan kewajiban untuk ambil bagian dalam aksi. Selanjutnya, perluasan bingkai (frame extension) dan yang terakhir mengenai peran berbagai media dan sosial media dalam membantu mengabarkan berbagai framing diatas. Hasil temuan di lapangan menunjukkan bahwa pertama, frame bridging berisikan tentang nilai – nilai masyarakat yang tertanam seperti fanatisme atau fundamentalisme agama Islam seperti kecintaan terhadap agamanya yang bisa membuat semangat juang masyarakat berkobar untuk terjun langsung ke lapangan. Oleh sebab itu, ketika kitab sucinya dinistakan oleh sang penista agama (Ahok) maka masyarakat terpanggil hatinya untuk ikut aksi damai 411. Kedua, penyegaran tafsiran atau penjelasan frame amplification dalam aksi damai 411 yakni mengangkat nilai-nilai ketidak-adilan yang sering disuarakan oleh para peserta aksi (value amplification). Sedangkan (belief amplification) yaitu; (a) seriusnya persoalan isu atau masalah penistaan agama yang diangkat; (b) sebab-akibat dan persoalan mendasar dalam aksi damai 411; (c) Ahok sebagai target utama dalam aksi; (d) adanya hasil dari dilangsungkannya aksi kolektif, seperti ditangkap dan dipenjarakannya Ahok; (e) adanya rasa kecintaan ummat muslim terhadap agama yang di cintainya dengan cara melibatkan diri dalam aksi damai 411. Sedangkan,ekstensi/perluasan bingkai (frame extension). Pembingkaian ini berupaya memperluas kumpulan pengikut dengan cara memotret tujuan yang awalnya masalah penistaan agama kemudian diangkat isu lain, seperti; Sumber Waras, Reklamasi Teluk Jakarta, penggusuran rumah yang tidak manusiawi, dan sifatnya Ahok yang sangat arogansi, tetapi kunci utamanya masih tetap masalah penistaan agama sehingga keterlibatan partisipan makin besar. Ketiga,adapun media atau saluran yang digunakan untuk membantu mengabarkan berbagai framing atau isu yang diangkat dengan massa, antara lain: media sosial (BBM, Whatsapp, Facebok, Instagram, Line), media cetak (buletin dan pamflet), media informasi (radio), cyber muslim/cyber army, door to door, khutbah/mimbar jum‟at, website resmi, organisasi dan juga hubungan personal.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/43154
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
MOH. FAISAL ASADI-FISIP.pdf1.45 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.