Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/42339
Title: Analisis Semiotika Foto Pada Buku Tanah Yang Hilang Karya Mamuk Ismuntoro
Other Titles: --
Authors: Dwinda Nur Oceani
Advisors: Rachmat Baihaky
Keywords: Lumpur Lapindo;Semiotika;Makna, Foto;Tanah yang Hilang
Issue Date: 21-Sep-2018
Publisher: Fakultas Ilmu dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta
Series/Report no.: --;--
Abstract: Foto dokumenter menjadi medium yang begitu relevan untuk menyampaikan sebuah realita sosial. Dalam hal ini, yaitu tragedi besar luapan Lumpur Lapindo di Sidoarjo yang terjadi pada tahun 2006, sebuah bencana non alamiah akibat campur tangan manusia atas lingkungan. Berangkat dari tragedi tersebut seorang fotografer dokumenter Mamuk Ismuntoro membuat catatan visual berupa buku foto Tanah yang Hilang. Karya tersebut hadir atas keresahannya sebagai warga terdampak. Selamat tujuh tahun ia mendokumentasikan gambaran atas kehidupan sehari-hari masyarakat dan lansekap kondisi, situasi desa terdampak. Dengan latar belakang di atas, muncul pertanyaan apa kandungan makna denotasi dan konotasi yang terkandung dalam foto-foto Mamuk Ismuntoro? Apa makna mitos yang terkandung dalam foto-fotonya? Ketiga tahap pemaknaan tersebut terkait bagaimana kondisi area desa dan keadaan masyarakat terdampak, pasca terjadinya luapan Lumpur Lapindo yang menenggelamkan beberapa desa di Sidoarjo dalam foto yang dibuat oleh Mamuk Ismuntoro. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini foto-foto yang dikaji menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes. Metode analisis ini menekankan pada makna denotasi, konotasi, dan mitos yang dimaknai oleh penulis dengan memperkaya temuan maknanya terkait hak-hak korban luapan Lumpur Lapindo yang terenggut. Dari penelitian ini dapat dilihat makna denotasi yakni gambaran bagaimana situasi desa-desa terdampak yang terendam dan kondisi masyarakat pasca luapan Lumpur Lapindo. Dari analisa makna konotasi terungkap bahwa foto-foto karya Mamuk Ismuntoro dalam buku Tanah yang Hilang menggambarkan kemuraman dan ingatan akan masa lalu yang telah sirna. Hal tersebut dapat dilihat dari dominasi warna foto dan pose subyek foto yang menghadap ke arah kiri. Serta gambar lansekap dan kehidupan seharihari masyarakat memperlihatkan rasa kehilangan atas sesuatu yang dimiliki dahulu. Dalam analisa makna mitos yang terbangun, diketahui bahwa apa yang terjadi di area terdampak luapan Lumpur Lapindo ialah tentang hilangnya kehidupan sosial, hak-hak dasar sebagai manusia, juga keputusasaan yang dilatarbelakangi oleh kemusnahan. Dalam hal ini peran penting negara pun sirna diakibatkan adanya kepentingan orang yang berkuasa. Kata kunci: Lumpur Lapindo, Semiotika, Makna, Foto, Tanah yang Hilang
Description: xiii, 103 hlm,; 26 Cm.
metadata.dc.description.uri: --
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/42339
ISSN: --
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
DIWNDA NUR OCEANI-FDK.pdf2.86 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.