Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/41766
Title: Potret guru agama pandangan tentang toleransi dan isu-isu kehidupan keagamaan
Authors: Ismatu Ropi
Issue Date: 1-Jul-2018
Abstract: Buku ini hadir untuk melihat seberapa jauh pendidikan agama Islam di sekolah memperkuat nilai-nilai kebangsaan (kebebasan, persamaan, keadilan, toleransi, dan persatuan) dan negara bangsa berdasar Pancasila dan UUD 1945. Pendidikan Agama Islam di Indonesia –apalagi di sekolah negeri– seharusnya bukan hanya membentuk manusia Indonesia yang taat agama, melainkan sekaligus juga membentuk warga negara yang beradab dan berperikemanusiaan. Hasil akhir pendidikan agama bukan hanya Muslim yang rajin salat, penganut Kristen yang taat ibadah di gereja (religious mission). Namun, hasil akhir pendidikan agama juga harus mampu membentuk siswa menjadi warga negara yang menghormati perbedaan satu sama lain, serta mampu bekerja sama mengatasi permasalahan-permasalahan bersama meski memiliki keyakinan dan latar belakang berbeda (civic mission). Ir. Soekarno menegaskan pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), 1 Juni tahun 1945 bahwa bertuhan yang tumbuh di Indonesia haruslah “bertuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama… berkeadaban… hormat menghormati… berbudi pekerti….”1 Penekanan pada dimensi kemanusiaan dalam kehidupan beragama dapat dipahami karena sikap masyarakat Indonesia yang majemuk terhadap negara secara ideologis senantiasa kontroversial. Ada golongan yang menghendaki dan mendorong Indonesia ke arah negara sekuler dan ada golongan yang memiliki aspirasi dan mendorong Indonesia menjadi negara Islam.2 Perkembangan kedua golongan ini sesungguhnya telah saling mengakomodasi dengan menyepakati bahwa Indonesia adalah negara bangsa berdasar Pancasila dan UUD 1945, suatu negara bangsa yang menempatkan ketuhanan (bukan Islam) pada posisi penting, sekaligus pada saat yang sama menjunjung tinggi kebebasan, persamaan, keadilan, dan persatuan. Namun baik pada Periode Revolusi (1945-1949), Periode Demokrasi Liberal (1950-1959), Demokrasi Terpimpin (1960-1965), Orde Baru (1966-1998), dan Era Reformasi (1999-sekarang), kedua golongan terus bertarung mewujudkan cita-cita kenegaraan menurut versi masing-masing melalui pelbagai arena, seperti kebijakan pemerintah, politik, media massa, termasuk pendidikan. Dalam kontestasi ideologis Islam dan sekuler, pendidikan agama Islam sebagai bagian dari suatu sistem pendidikan nasional seharusnya selain menumbuhkan keislaman juga menguatkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Pendidikan agama Islam seharusnya ikut menjaga keseimbangan antara misi pengembangan keislaman dan kebangsaan/kemanusiaan, antara pembentukan Muslim dan pembentukan warga negara Indonesia yang demokratis. Karena itu, selain soal iman, ibadah dan sopan santun, pendidikan agama Islam harus menekankan nilainilai universal Islam, seperti kebebasan, kesetaraan, keadilan, toleransi, persatuan dalam perbedaan atau nilai-nilai kebangsaan. Pendidikan agama Islam di Indonesia juga harus menanamkan nilai-nilai toleransi, dialog, musyawarah-mufakat, dan non-kekerasan dalam mengatasi permasalahan.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/41766
Appears in Collections:Buku

Files in This Item:
File SizeFormat 
Ismatu Buku Potret Guru Agama.pdf4.27 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.