Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/40610
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorRifqi Muhammad Fatkhiid
dc.contributor.authorM. Alvin Nur Choironiid
dc.date.accessioned2018-08-06T02:53:15Z-
dc.date.available2018-08-06T02:53:15Z-
dc.date.issued2018-07-22-
dc.identifier.urihttp://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/40610-
dc.description.abstractSebuah teks selalu memiliki konsekuensi untuk dihapus dan ditakwilkan oleh semua pembacanya. Setiap orang menakwilkannya dengan strategi pembacanya. Sehingga orang yang membaca teks tersebut sesuai dengan kekuatan dan posisinya, termasuk hadis, yang notabenenya sebagai teks keagamaan dan rujukan kedua setelah Alquran. Soekarno dan Natsir adalah dua orang pemimpin dan tokoh muslim yang memiliki posisi, lingkungan dan latar belakang yang berbeda. Namun, keduanya sama-sama menggunakan hadis sebagai referensi dalam setiap argumentasi yang disampaikan. Bahkan, keduanya sempat berguru dengan orang yang sama, namun memiliki pemahaman yang berbeda. Penelitian ini akan membahas pandangan Soekarno dan Natsir terkait otoritas hadis serta pola pemahamannya terhadap hadis. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan mencari hadis dan/atau kalimat yang terindikasi sebagai hadis dalam kedua buku karya Soekarno dan Natsir, yakni Islam Sontoloyo dan Islam dan Akal Merdeka. Hadis-hadis yang ditemukan kemudian ditakhrij dengan metode taḥrīj Mahmūd Ṭaḥḥān, kemudian dilakukan penelitian terhadap kualitas hadis tersebut dengan metode al-Irāqī. Setelah itu dilakukan analisis untuk apa hadis tersebut digunakan. Penelitian ini menunjukkan bahwa secara konseptual Soekarno dan Natsir sama-sama sepakat untuk menggunakan hadis sahih sebagai pijakan. Namun secara praktis, Soekarno dan Natsir tidak konsisten, terkadang mereka menggunakan hadis sahih, terkadang hadis hasan, dhaif, bahkan palsu. Dalam hal penggunaan dan pemahaman hadis, keduanya memiliki perbedaan. Soekarno cenderung tergolong sebagai kelompok Ideal-Generalistik, yakni mengakui bahwa hadis Nabi Saw. sebagai teladan tetapi tidak bersifat mendetail. Karena suatu hadis pasti memiliki latar belakang situasional. Sehingga yang menjadi fokus bukan pada detailnya melainkan pada spirit umumnya. Sedangkan Natsir termasuk dalam kategori Ideal-Restriktifistik, yakni jika hadis tersebut bersifat tasyri’ī, maka hadis tersebut mengikat, jika non-tasyri’ī maka tidak mengikat, Natsir membahasakannya dengan “dien” dan “duniawi”. Perbedaan ini disebabkan perbedaan latar belakang keduanya, serta perbedaan riwayat hadis yang dikutip keduanya.id
dc.language.isoidid
dc.titleHadis dalam pemikiran keagamaan Soekarno dan Natsirid
dc.typebachelorThesisid
dcterms.publisherJakarta : Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah-
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
M. ALVIN NUR CHOIRONI-FU.pdf8.28 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.