Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/40395
Title: Dimensi Makna Dzikr Ulil Albâb Dalam Al-Qur’an: Studi Atas Pemikiran M. Dawam Rahardjo
Authors: Faris Maulana Akbar
Advisors: Kusmana
Issue Date: 3-Jul-2018
Publisher: Jakarta : Fakultas Ushuluddin Dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah
Abstract: Penelitian ini mengkaji pemikiran M. Dawam Rahardjo atas dimensi makna dzikr pada ayat-ayat ulil albâb. Konsep ulil albâb dalam al-Qur’an yang dirumuskan sebagai sosok manusia ideal ini sebenarnya telah dibahas oleh beberapa pengkaji al-Qur’an, baik dari kalangan mufassir klasik hingga kontemporer. Dalam kajian tafsir, umumnya mereka mengkaji konsep tersebut secara normatif dan sedikit sekali yang mengkajinya secara aplikatif. Di antara yang sedikit itu terdapat M. Dawam Rahardjo, seorang ekonom dan aktivis sosial yang mengkaji konsep ulil albâb secara normatif-aplikatif dengan nalar tafsîr ijtimâ’î-nya sehingga konsep ulil albâb dibawa ke ranah pemaknaan sosial. Di Indonesia, ulil albâb dikenal sebagai “cendekiawan muslim”. Salah satu konsep cendekiawan muslim adalah konsep dzikr-fikr. Sebagai ulil albâb, cendekiawan muslim dianggap memiliki kualitas dzikir dan pikir. Konsep inilah yang menjadi salah satu bahasan utama M. Dawam Rahardjo dalam mengkaji ulil albâb. Terkait hal ini, di dalam Ensiklopedi al-Qur’an ia kemudian berspekulasi bahwa bagi ulil albâb dzikir adalah pikir dan pikir adalah dzikir. Artinya, setiap kali berdzikir, ulil albâb juga berpikir dan setiap kali berpikir, mereka juga berdzikir. Spekulasi ini bermasalah karena umumnya dzikir berkaitan dengan hati dan pikir berkaitan dengan akal. Bagaimana bisa M. Dawam Rahardjo berspekulasi seperti itu? Pertanyaan inilah yang hendak dijawab dalam penelitian ini. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode deskriptif-analitik. Sementara itu, pengumpulan data dilakukan dengan metode tematik agar mendapatkan hasil yang koheren dan komprehensif. Ensiklopedi al-Qur’an karangan Dawam dipilih sebagai sumber primer sedangkan kitab-kitab tafsir, buku, serta jurnal dipilih sebagai sumber sekunder. Segala sumber tersebut berkaitan dengan penafsiran makna dzikr ulil albâb dan juga perihal wacana cendekiawan muslim. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa tidak ada masalah dengan spekulasi M. Dawam Rahardjo. Hanya saja, pada kasus ini, M. Dawam Rahardjo mengkontekstualisasikan makna dzikr dari yang sebelumnya identik dengan kegiatan spiritual kemudian ia bawa ke ranah yang lebih rasional, yaitu pikir. Hal ini tidak terlepas dari konteks wacana ulil albâb yang berkembang saat itu, terutama mengenai eksistensi cendekiawan muslim dan peranannya dalam mengayomi umat yang terejewantahkan ke dalam sebuah organisasi besar bernama Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI)
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/40395
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
FARIS MAULANA AKBAR-FUF.pdf27.28 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.