Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/401
Title: Mesir pada masa pemerintahan Anwar Sadat: upaya Anwar Sadat dalam perdamaian Mesir Israel
Authors: Meilasari, Putri
Advisors: Misbah, Ma'Ruf
Issue Date: 5-Oct-2012
Publisher: Fakultas Adab Dan Humaniora
Series/Report no.: 0111-11-10521;2599 SPI a
Abstract: Pada tahun 1973, Anwar Sadat, bersama-sama dengan Hafez Al Assad, Presiden Syria, memimpin Mesir dalam Perang Yom Kippur melawan Israel, untuk merebut kembali semenanjung Sinai, yang diambil oleh Israel ketika krisis Terusan Suez 1956 dan Perang Enam Hari. Meskipun dalam pertempuran ini masih dipertentangkan pihak menang ataupun kalah, serta hasil Perjanjian Camp David yang menetapkan Sinai kembali ke tangan Mesir, keberhasilan Anwar Sadat menaikan moral rakyat Mesir dan Dunia Arab serta mengadakan perjanjian damai beberapa tahun berikutnya. Perjanjian damai Camp David yang diprakarsai Jimmy Carter dan Henry Kissinger memang mengembalikan wilayah Mesir yang sebelumnya direbut oleh Israel pada perang 1967, namun tidak mengembalikan Dataran Tinggi Golan yang direbut Israel kepada Syria pada perang 1967. Meski secara politik, perang Yom Kippur atau Perang Ramadhan 1973 itu menguntungkan dunia Arab, masalah Palestina dan Jerusalem terutama Jerusalem Timur yang direbut Israel pada perang 1967 masih mengganjal bahkan beberapa kalangan mengatakan dilupakan. Hal ini membuat kemarahan dari kalangan PLO, kaum fundamentalis dan pergerakan Islam dan kalangan Palestina serta dunia Arab, terutama setelah kunjungannya ke Jerussalem atas undangan Manachem Begin. Pada tahun 1977, Anwar Sadat mengadakan kunjungan ke Jerusalem atas undangan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin yang merupakan awal perundingan perdamaian antara Israel dan Mesir. Pada tahun 1978, terciptalah Perjanjian Damai Camp David, yang mana Anwar Sadat dan Menachem Begin menerima Hadiah Nobel Perdamaian. Bagaimanapun tindakan ini ditentang hebat oleh dunia Arab. Banyak yang percaya bahwa hanya dengan ancaman militer dapat memaksa Israel berunding mengenai Palestina, dan Perjanjian Damai Camp David menepikan Mesir yang dianggap kekuatan militer di dunia Arab yang signifikan disamping Syria dan Irak pada saat itu.
Description: ii, 60 hal.; 22cm.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/401
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
102380-PUTRI MEILASARI-FAH.PDF15.04 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.