Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/38306
Title: Radikalisme Dalam Pemahaman Hadis (Kritik Terhadap Pemahaman ISIS Atas Perang Akhir Zaman
Authors: Mohammad Roki’in
Advisors: Atiyatul Ulya
Issue Date: 17-Jan-2018
Abstract: Penggunaan teks agama sebagai legitimasi tindakan kekerasan telah jamak terjadi dalam sejarah Islam. Pemberontakan kelompok khawarij dan terbunuh khalifah ‘Alī ibn Abī Tālib merupakan bukti sejarah bahwa teks agama dijadikan legitimasi tindakan kekerasan. Akhir-akhir ini, muncul kelompok Islamic State Irak and Syiria (ISIS) yang melakukan teror dan tindak kekerasan dengan menggunakan hadis sebagai legitimasi hukum. Mereka menklaim sebagai pasukan akhir zaman yang dijanjikan oleh Nabi. ISIS mengutip hadis futuristik Nabi perihal perang antara kaum muslimin dan orang-orang Romawi di akhir zaman, yang menjadi awal dari penaklukan Konstantinopel. Hadis ini dipahami oleh ISIS sebagai hadis tasyrī’iyah yang menuntut seluruh umat muslim untuk mengamalkannya. Sedangkan umat muslim yang tidak mengamalkan, dianggap melakukan dosa besar. Dalam penelitian ini, saya akan menkaji ulang hadis futuristik Nabi perihal perang akhir zaman yang dijadikan landasan teologis oleh ISIS, dengan menggunakan metode pemahaman hadis melalui pemilahan posisi Nabi yang ditawarkan oleh Ibn Āsyūr. Pemilahan posisi Nabi menjadi instrumen penting untuk mengetahui motif sebuah hadis, yang pada akhirnya berimplikasi pada tingkat otoritasnya. Apakah sebuah hadis mengandung nilai tasyrī’īyah atau non-tasyrī’īyah. Pemilahan tersebut dilakukan berdasarkan indikator yang terdapat dalam teks hadis ataupun di luar teks hadis. Dalam tulisan ini, saya akan menghadirkan konteks awal munculnya hadis perang akhir zaman untuk dijadikan indikator. Penelitian ini mengarah pada kesimpulan bahwa hadis perang akhir zaman tidak mengandung nilai tasyrī’īyah sehingga tidak ada tuntutan bagi umat muslim untuk mengamalkannya. Hadis perang akhir zaman disampaikan oleh Nabi di saat beliau memimpin pasukan pada perang Tabuk. Munculnya hadis ini dilatarbelakangi oleh kondisi pasukan kaum muslimin yang mengalami kesulitan materi, sedangkan yang mereka hadapi ialah pasukan Romawi yang secara kuantitas dua kali lipat lebih besar daripada jumlah mereka. Nabi menyampaikan isyarat futuristiknya bukan untuk tasyrī’ (pembentukan hukum), melainkan untuk meningkatkan kualitas dan ketahanan mental pasukan kaum muslimin agar tidak berkecil hati dan tetap tegar dalam menghadapi pasukan Romawi. Dalam catatan sejarah, Hadis futuristik Nabi perihal perang akhir zaman tidak hanya digunakan oleh ISIS untuk kepentingan politiknya, melainkan telah jamak digunakan oleh khalifah-khalifah Islam mulai dari pemerintahan Banī Umayyah hingga pemerintahan Banī Utsmāniyah. Penggunaan hadis tersebut berhenti setelah Konstantinopel yang sekarang dikenal dengan Istanbul, ditaklukkan oleh Muhammad al-Fātih, khalifah dari Banī Utsmāniyah.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/38306
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
MOHAMMAD ROKI’IN -FUF.pdf2.15 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.