Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/38305
Title: PEMAHAMAN HADIS TENTANG PEMAKAIAN SERBAN MENURUT DR. AHMAD LUTFI FATHULLAH, MA
Authors: Fahmi Hidayatullael
Advisors: Muhammad Zuhdi
Issue Date: 18-Jan-2018
Abstract: Pakaian sudah menjadi kebutuhan pokok manusia. Dengan berpakaian, manusia akan berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Pakaian berfungsi untuk melindungi tubuh, menutup aurat, menunjukkan identitas, maupun sekedar bergaya (style). Salah satu bentuk dari pakaian adalah serban. Serban dikenakan oleh banyak orang di dunia. Bahkan, hampir semua penganut agama mengenakan serban dengan versinya tersendiri. Nabi Muhammad Saw. diutus oleh Allah Swt. untuk menyempurnakan akhlak manusia, termasuk dalam hal berpakaian. Sejarah mencatat, Nabi Muhammad Saw. selalu berpakaian rapih, menutup aurat, dan mengenakan serban. Para Nabi terdahulu dan masyarakat Arab telah mengenakan serban sebelum Nabi Muhammad Saw. lahir. Kondisi geografis Arab yang begitu ekstrim menuntut penduduknya untuk menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya agar terlindungi dari berbagai ancaman, tak terkecuali Nabi Muhammad Saw. yang merupakan suri teladan bagi manusia. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana pendapat Ahmad Lutfi Fathullah terkait hadis tentang pemakaian serban. Beliau adalah ulama, tokoh hadis Indonesia, pendiri sekaligus direktur Pusat Kajian Hadis Indonesia, dan cucu dari Guru Mughni, ulama kenamaan pada era akhir 1800 M dan awal 1900 M. Hal ini penting dilakukan guna menjawab persoalan di tengah masyarakat mengenai hakikat serban sebagai sunah Nabi atau sekedar budaya. Metode yang digunakan adalah metode kepustakaan (library research) dan wawancara (interview) terhadap Dr. Ahmad Lutfi Fathullah MA. Dalam menguraikan pembahasan, penulis menggunakan metode deskriptif analitis. Penulis juga menggunakan metode takhrîj untuk mengetahui kualitas hadis yang diteliti. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Ahmad Lutfi Fathullah berpendapat bahwa serban adalah budaya, bukan sunah. Mengenakan serban dapat berpahala bila diniatkan mengikuti Rasulullah Saw. Mengenakan serban tidak bisa dipaksakan karena Nabi mengenakan serban bukan atas dasar posisi beliau sebagai penyampai risalah akan tetapi ketika beliau sebagai seorang pribadi. Orang yang mengenakan serban dan orang yang tidak mengenakan serban harus saling menghormati dan menghargai. Kadar keimanan dan kesalehan sesorang tidak dilihat dari pakaian yang dikenakan, melainkan dilihat dari ilmu, amal ibadah, dan akhlak. Hadis tentang Nabi mengenakan serban adalah sahîh. Namun hadis tentang keutamaan serban adalah da’îf
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/38305
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
FAHMI HIDAYATULLAEL - FUF .pdf6.79 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.