Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/36902
Title: Keutamaan puasa sunnah dalam prespektif hadis (kajian tematik)
Authors: Luluk Khozinatin
Advisors: M.Isa HA Salam
Issue Date: 4-Oct-2017
Publisher: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, 2017
Abstract: Puasa sunnah adalah puasa yang dilakukan atau dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW di luar puasa wajib (ramadhan). Puasa sunnah ada beberapa macam, di antaranya: puasa senin, puasa kamis, puasa enam hari bulan syawal, puasa daud, puasa hari arafah, puasa hari tarwiyah, puasa Sembilan hari pertama di bulan dzulhijjah, puasa tasu’a, puasa asyura, puasa bulan-bulan yang dimuliakan, puasa tengah bulan, puasa bulan sya’ban dan puasa bulan rojab. Puasa sunnah memiliki manfaat luar biasa bagi pelakunya seperti: dapat memberikan kesehatan psikis dan fisik, memperoleh pahala, menghapuskan dosadosa, dan sebagainya. Ahli fikih menyatakan bahwa puasa pada hari senin dan kamis disunnahkan dan hal ini memberikan efek yang positif bagi tubuh, begitupula ahli hadis mengemukakan bahwa hari senin dan kamis disunnahkan berpuasa karena pada dua hari itu amalan akan diperlihatkan atau disetorkan, hal ini berdasarkan dari sebuah hadis yang menyatakan bahwa nabi Muhammad SAW lebih suka melaksanakan puasa ketika amal ibadah ditampakkan, selain itu pula hari senin adalah hari dimana nabi Muhammad SAW dilahirkan dan menerima wahyu. Ahli fikih (empat madzhab) berpendapat bahwa puasa daud adalah puasa yang paling utama tingkatannya tapi dilakukan oleh orang-orang yang mampu. Begitu pula dikemukakan oleh as-Sindy dalam catatannya yang menyatakan bahwa puasa daud adalah puasa yang paling utama dilakukan dengan syarat tidak menggugurkan kewajibannya. Menurut penulis kewajiban di sini termasuk di antaranya kewajiban sebagai hamba dan kewajiban sosial terhadap sesama. Ahli fikih berbeda pendapat mengenai kesunnahan puasa enam hari bulan syawal dan mengenai tata caranya. Madzhab Syafi’i, Hanbali dan Hanafi menyatakan bahwa puasa enam hari bulan syawal menghukumi sunnah sedangkan Imam Maliki menyatakan bahwa puasa tersebut makruh karena ditakutkan sebagai puasa wajib. Mengenai tata cara puasa Imam Syafi’i dan Hanbali mengemukakan bahwa puasa syawal yan paling utama adalah dikerjakan dengan cara terus-menerus tidak terpisah. Dan menurut ahli hadis puasa enam hari bulan syawal itu seperti puasa selama setahun hal ini didasarkan dengan hadis Rasulullah SAW.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/36902
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
LULUK KHOZINATIN-FU.pdf4.16 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.