Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/36879
Title: Tafsir ulama nusantara tentang kepemimpinan nonmuslim
Authors: Siti Rodiah
Advisors: Abd. Moqsith Ghazali
Issue Date: 11-Sep-2017
Publisher: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, 2017
Abstract: Hubungan muslim dan nonmuslim kerap diwarnai dengan isu-isu negatif, salah satunya soal pengangkatan pemimpin nonmuslim. Banyaknya ayat al-Qur'an yang melarang umat muslim mengangkat pemimpin nonmuslim, seringkali dianggap sebagai larangan yang bersifat mutlak oleh berbagai kalangan. Akan tetapi, secara eksplisit al-Qur'an juga memuat beberapa ayat yang menjelaskan sejauh mana pelarangan dan kebolehan mengangkat pemimpin nonmuslim sebagai kepala negara. Oleh karena itu, untuk memberi pandangan mendalam mengenai pemimpin nonmuslim khususnya di Indonesia, maka penulis mengangkat tema tafsir ulama Nusantara tentang kepemimpinan nonmuslim yang meliputi QS. Ali Imran[3]: 28; QS. An-Nisa [4]: 144; dan QS. al-Maidah [5]: 51. Adapun tafsir Nusantara yang dijadikan rujukan utama dalam penelitian ini adalah Tafsīr Marāh Labīd karya Syeikh Nawawi;Tafsīr al-Nūr karya Hasbi al-Shiddieqy; Tafsīr al-Azhar karya Buya Hamka; dan Tafsir al-Misbāh karya M. Quraish Shihab. Penelitian ini ingin mengetahui penafsiran ulama Nusantara tentang kepemimpinan nonmuslim dalam al-Qur'an, yang dilakukan melalui metode Analisis deskriptif, yakni suatu upaya mendeskripsikan penafsiran ulama Nusantara tentang kepemimpinan nonmuslim, kemudian dianalisis dan dicari korelasi dan kontekstualisasinya di era sekarang ini. Melalui pembacaan dari sumber utama penelitian, dapat diketahui bahwa ada kesamaan persepsi antara Syeikh Nawawi, Hasbi al-Shiddieqy dan Buya Hamka terkait pengangkatan pemimpin nonmuslim. Mereka menegaskan bahwa sampai kapan pun umat Islam tidak boleh menjadikan nonmuslim sebagai auliyā' (sahabat, teman karib, pemimpin), karena mereka berpotensi menyesatkan umat muslim. Namun, pendapat berbeda justru datang dari M. Quraish Shihab, yang secara eksplisit menyatakan bahwa larangan ini hanya ditujukan kepada nonmuslim yang memiliki sifat buruk sebagaimana yang dikecam dalam al-Qur'an. Adapun nonmuslim yang adil dan memiliki kemampuan untuk memimpin bangsanya menjadi lebih baik, maka tidak ada larangan menjadikannya seorang pemimpin. Meski demikian, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa lebih baik umat Islam mengutamakan pemimpin dari kalangan muslim
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/36879
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
SITI RODIAH-FU.pdf1.96 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.