Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/36117
Title: Tradisi Perkawinan Merariq Suku Sasak Di Lombok : Studi Kasus Integrasi Agama dengan Budaya Masyarakat Tradisional
Authors: Annisa Rizky Amalia
Advisors: Ridwan Lubis
Issue Date: 3-Jul-2017
Publisher: Jakarta : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah
Abstract: Kajian pokok penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran tradisi Merariq dalam Suku Sasak di Lombok di desa Sade, serta ingin mengetahui apa saja alasan masyarakat menjalankan tradisi Merariq tersebut. Dalam hal ini yang menjadi subjek penelitian adalah seluruh masyarakat Suku Sasak Lombok yang berada di desa Sade, sedangkan objek kajiannya adalah perspektif Islam dengan menggunakan metode kualitatif dengan melakukan pendekatan antropologi agama. Responden yang diteliti sebanyak empat orang dari latar belakang yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyimpulkan bahwa tradisi Merariq ini dalam Suku Sasak Lombok di desa Sade terdiri dari beberapa tahapan yaitu: (1) Midang (meminang). Termasuk bagian dari midang ini adalah ngujang (mengunjungi calon istri di luar rumah), disini terjadilah kesepakatan antara kedua belah pihak untuk melakukan penculikan atau si laki-laki membawa lari si perempuan. (2) Pihak laki-laki harus menculik (melarikan) pengantin perempuan. (3) Pihak laki-laki harus melaporkan kejadian kawin lari itu kepada kepala dusun tempat pengantin perempuan tersebut tinggal, yang dikenal dengan istilah selabar (nyelabar). (4) Pelunasan uang jaminan dan mahar. (5) Melakukan akad nikah dengan cara Islam. (6) Adapun istilah yang digunakan dalam pembayaran adat ketika ingin menikah di Suku Sasak Lombok disebut dengan Sorong doe atau sorong serah. (7) Nyongkolan, yaitu mengantarkan kembali pihak perempuan pada pihak keluarganya, diarak keliling kampung dengan berjalan kaki diiringi musik tradisional khas lombok (gendang belek dan kecimol). Tradisi Merariq ini tidak di benarkan dalam Islam, karena proses peminangan dalam Islam dengan peminangan tradisi Merariq sangat berbeda dan tradisi ini banyak menimbulkan kemudharatan dan bertentangan dengan hukum Islam. Walaupun begitu Merariq tetap diakui sebagai status hukum karena merupakan salah satu adat istiadat
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/36117
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
ANNISA RIZKY AMALIA - FUF.pdf5.56 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.