Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/35806
Title: Mengubah Wajah Fiqh Islam
Authors: Abd Moqsith
Keywords: Research Subject Categories::HUMANITIES and RELIGION
Issue Date: Jul-2007
Publisher: PSIK Univ. Paramadina Jakarta
Abstract: Fiqh merespons semua soal kehidupan sehingga harus dicek terus menerus apakah jawaban yang diberikannya itu sudah memadai atau justru menjadi blunder. Sebab, jawaban fiqh kerap tak ditunjang dengan argumentasi yang kokoh. Buku-buku fiqh kadang tak lebih dari sebuah antologi dari pikiran superfisial sejumlah para ulama yang tercerai-berai dimana-mana. Dan sejauh pantauan saya, buku fiqh amat jarang menjelaskan kerangka metodologi yang dipakainya. Ini mungkin karena secara metodologis sebagian besar fiqh memang mengikuti saja manhaj (ushul fiqh) yang telah diletakkan para imam madzhabnya ; seperti Muhammad bin Idris al-Syafi’i atau Imam Malik bin Anas. Fiqh tak banyak menjelaskan thuruq al-istinbath dari suatu ketentuan hukum. Persoalan krusial yang harus segera diketahui publik tentang fiqh adalah bahwa ia bukan wahyu dari langit. Fiqh merupakan produk ijtihad. Persoalan siapa yang merumuskannya, untuk kepentingan apa, dalam kondisi sosial yang bagaimana dirumuskan, serta dalam lokus geografis seperti apa, dengan epistemologi apa, cukup besar pengaruhnya di dalam proses pembentukan fiqh. Dengan perkataan lain, fiqh tidak tumbuh dalam ruang kosong, tapi bergerak dalam arus sejarah. Setiap produk pemikiran fiqh selalu merupakan interaksi antara si pemikir dan lingkungan sosio-kultural dan sosio-politik yang melingkupinya. Dalam suasana dan kondisi yang demikian itulah seluruh fiqh Islam ditulis. Inilah yang melatari mengapa misalnya Imam Syafi’i memiliki dua pendapat fiqh berbeda; qawl qadim dan qawl jadid. Qawl qadim adalah pandangan fiqh Imam Syafi’i ketika ia berada di Baghdad, sementara qawl jadid adalah pandangan fiqh yang bersangkutan ketika tinggal di Mesir. Ada sejumlah pendapat Imam Syafi’i yang terpaksa diubah karena adanya perubahan konteks, konteks Baghdad kontras dengan konteks Mesir. Sebuah kaidah menyatakan bahwa perubahan hukum berjalan seiring dengan perubahan situsi, kondisi, dan adat istiadat (taghayyur al-ahkam bi taghayyur al-azminah wa al-amkinah wa al-ahwal wa al-‘awaid).
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/35806
Appears in Collections:Buku (Bab atau Keseluruhan)

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
Mengubah Wajah Fikih Islam (artikel).pdf485.46 kBAdobe PDFView/Open
Mengubah Wajah Fikih Islam (Cover).pdf292.46 kBAdobe PDFView/Open


This item is licensed under a Creative Commons License Creative Commons