Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/35127
Title: Tafsir al-Silm Kāffah QS. Al-Baqarah [2]: 208: Studi Komparatif Penafsiran Mufassir Klasik Dan Modern
Authors: FIQIH KURNIAWAN
Advisors: Ahzami Samiun Jazuli
Issue Date: 21-Feb-2017
Abstract: Islam kāffah merupakan istilah yang diangkat dari ayat al-Qur‘an. Sementara dalam ranah tafsir sendiri, kata al-silm yang terkandung dalam ayat tersebut memuat beragam macam penafsiran. Kata al-silm mengandung arti Islam, ketaatan, tunduk dan perdamaian. Dari ragam penafsiran tersebut kemudian dalam konteks sekarang di Indonesia sebagian kalangan Islam menggunakan penafsiran al-silm dengan Islam. Implikasi dari penafsiran tersebut kemudian memunculkan pemahaman bahwa Islam harus diterapkan secara kāffah (menyeluruh) meliputi ideologi negara berdasarkan QS. Al-Baqarah [2]: 208. Penafsiran yang pada awalnya sebagai sebuah alat untuk untuk mengetahui makna yang terkandung dalam kalam ilahi—bergeser menjadi sebuah alat kepentingan kelompok Islam tertentu. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana sumber teks tafsir berbicara mengenai kata al-silm kāffah dan mengetahui bagaimana relevansi di antara kalangan Islam di Indonesia memahami sebuah konsep Islam kāffah. Maka metode penelitian skripsi yang digunakan peneliti adalah metode analisis-komparatif. Metode bermaksud menganalisis perbandingan penafsiran klasik dengan modern terhadap masalah yang sedang peneliti kaji. Penafsiran klasik menyajikan banyak makna al-silm yang bersumber pada riwayat, sementara mufassir modern lebih menekankan konteks sosial masyarakat dalam penafsirannya. Kemudian untuk mengkaitkan dengan konteks sekarang, penulis menggunakan pendekatan kontekstual Abdullah Saeed. Pendekatan kontekstual bertujuan untuk memahami bagaimana sebuah penafsiran relevan dengan konteks yang mengitarinya. Berdasarkan objek yang diteliti, penulis telah menemukan beberapa temuan terkait tersebut. Pertama, mufassir klasik cenderung menafsirkan al-silm dengan Islam, sedangkan mufassir modern menafsirkan al-silm dengan nilai. Kedua, sebagian kelompok Islam menggunakan Islam kāffah untuk menerapkan syariat Islam. Ketiga, sebagian cendekiawan Muslim di Indonesia seperti Abdurrahman Wahid menolak pemahaman Islam kāffah, di samping merupakan tindakan subversif kebahasaan, yaitu titik puncak dari Islam kāffah menurut Abdurrahman Wahid ialah mendirikan negara Islam. Keempat, dalam ranah nalar publik, Islam kāffah sebagai ideologi telah mengalami benturan karena berseberangan dengan ideologi Pancasila dan sistem demokrasi yang dianut oleh NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/35127
Appears in Collections:Tesis

Files in This Item:
File SizeFormat 
FIQIH KURNIAWAN-FU Watermark.pdf2.42 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.