Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/34727
Title: Epistemologi tuhan menurut Ibn 'Arabi
Authors: Rifqi Rizaldy
Advisors: Agus Darmaji
Issue Date: 31-Oct-2016
Publisher: Fakultas Ushuluddin
Abstract: Ibn 'Arabi adalah salah satu dari banyak sosok ensiklopedis yang pernah ada di muka bumi ini, hal ini bisa kita saksikan dari keluasan wawasan pengetahuannya yang tersimpan dalam karya-karyanya. Di Timur, ia dikenal sebagai pemuka tasauf yang jujur dalam perkataan dan menepatinya dengan tindakan dalam samudera rahasia ke-Tuhan-an. Sedangkan di Barat, ia dikenal sebagai tabib yang dapat mengobati penyakit ganas “Barat” dengan ilmu dan pengetahuannya tentang ke-Tuhan-an dalam dimensi tasaufnya. Namun, betapa pun dalam wawasan, ilmu dan pengetahuan yang dimiliki Ibn 'Arabi, popularitasnya sebagai seorang hamba (‘abd Allāh) yang begitu mencintai Tuhannya jauh lebih dalam dari pada wawasan, ilmu, dan pengetahuannya sendiri. Dengan memahami esensi ajaran pokok Ibn 'Arabī, berarti seseorang tidak saja telah memasuki ruang-ruang pemikirannya, tetapi juga telah melihat isi dalam ruangan dan bangunan luar dari ruangan-ruangan tersebut. Dari mana kita masuk ke dalam sebuah ruangan? Tentu dari luar ruangan tersebut. Dari mana seseorang dapat memahami ajaran pokok seorang tokoh? Tentu dari bangunan luar ajaran tokoh tersebut. Di mana sebenarnya bangunan luar tersebut, berdiri kokoh di atas pondasi-pondasi dasarnya. Lalu, bagaimana pondasi dasar, bangunan luar, ruangan-ruangan tersebut ada atau dibuat? Jika kita menjawabnya dari sudut pandang ke-Tuhan-an, maka jelas adanya hal tersebut (yakni rangkaian pengetahuan menuju ma'rifat Allāh) mutlak karena kehendak Tuhan, dan jawaban ini, secara otomatis memutus hubungan ontologis-epistemologis-aksiologis sebuah pengetahuan, meskipun sebenarnya hal ini memang kehendak Tuhan. Namun demikian, perlu kita ingat bahwa kehendak Tuhan (dalam konteks, mengalami ma‘rifat Allāh) itu tidak mengaktual begitu saja tanpa mengikut sertakan hubungan yang satu dengan hubungan yang lainnya. Misalnya, peristiwa turunnya hujan tidak terjadi lantaran tiba-tiba ada air di atas, lalu tiba-tiba juga air itu jatuh. Dari mana air yang di atas itu ada? Lalu mengapa air itu terjatuh? Maksudnya, ada faktor-faktor yang menyertai peristiwa hujan atau penyingkapan (kasyf) pengetahuan intuitif (ma‘rifah). Sehingga, dapat penulis katakan bahwa peristiwa hujan atau penyingkapan pengetahuan tentang ke-Tuhan-an (bahkan yang seketika sekalipun/ladunnī) itu sebenarnya tidak terjadi begitu saja tanpa mengikut sertakan hubungan yang lainnya, atau dengan ungkapan lain, bahwa ada pertanyaan mengenai “bagaimana” yang identik dengan epistemologi ini, dalam pembahasan tentang pengetahuan Tuhan menurut Ibn 'Arabi
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/34727
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
RIFQI RIZALDY-FU.pdf3.58 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.