Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/34725
Title: Konsep universalitas kenabian-kenabian perspektif alqur’an: sebuah kajian tematik
Authors: Abuzar Alghifari
Advisors: Hamdani Anwar
Issue Date: 26-Jan-2017
Publisher: Fakultas Ushuluddin
Abstract: Tidak dapat dipungkiri kemuliaan Nabi Muhammad sebagai nabi Islam. Namun kemuliaan kenabian itu dipolemikkan apakah mengatasi dan mendelegitimasi kenabian-kenabian sebelumnya atau hanya bersifat ekuivalen. Dalam hal ini, pandangan ulama terbelah kepada dua hal; kenabiannya bersifat ekuivalen atau bersifat hierarkis. Tesis ini menyimpulkan bahwa seluruh kenabian; kenabian Nabi Muhammad dan kenabian-kenabian sebelumnya, bersifat ekuivalen, baik dalam konteks delegasi maupun legitimasi. Dalam konteks historis, seluruh kenabian membawa substansi kebenaran yang bersifat universal namun mekanisme implementasinya secara absolut terproyeksi secara partikular. Dengan demikian, kenabian Nabi Muhammad yang diyakini bersifat universal adalah dalam arti tidak bersifat eksklusif dan delegitimatif terhadap kenabian-kenabian sebelumnya. QS. Ibrȃhȋm [14]: 4 sebagai prinsip utama dalam pendelegasian para nabi mengimplikasikan pemaknaan bahwa ayat-ayat seputar pendelegasian para nabi hanya sekedar narasi al-Qur’an terkait pentingnya peran bahasa dalam komunikasi (al-balâgh al-mubîn) pesan Tauhid sebagai misi utama mereka. Sehingga, nalar interpretasi limitatif (pembatasan) yang melihat kata-kata seperti al-Nâs, Kâffah li al-Nâs, dan ‘Âlamîn, seakan kontras dangan kata-kata seperti Qaumihî, Tsamûd, ‘Âd, Madyan, dan Banî Isrâ‘îl, merupakan suatu hal yang harus dihindari. Penelitian ini mendukung Muhammad Abduh, Rashîd Ridâ, Kautsar Azhari Noer, Abû Ja’far al-Tûsî (w. 460/1067), Abd al-Jabbâr al-Hamadânî (w. 415 H/1025), serta Fred Donner (2010), yang berpandangan seluruh kenabian bersifat setara dalam status pendelegasian karena itu tidak boleh dibeda-bedakan. Seluruh agama memiliki titik temu pada dimensi esoterik meskipun berbeda pada aspek eksoterik karena tuntutan perbedaan konteks ruang dan waktu. Penelitian ini juga tidak sependapat dengan al-Tabarî, Ibn Katsîr, al-Qurtubî, al-Jîlânî, alix Râzî, Ibn ‘Âshûr, al-Suddî, Maulana Walid Khan, al-Marâghî, serta Quraish Shihab, yang berpandangan bahwa kenabian Muhammad bersifat universal sedangkan kenabian-kenabian sebelumnya hanya bersifat komunalistik-parsial. Sumber primer penelitian ini adalah ayat-ayat al-Qur’an yang secara tematik berkenaan dengan pengutusan Nabi Muhammad serta karya-karya tafsir sebagai respon atau pandangan para tokoh terhadap pembahasan inti penelitian ini. Sumber sekunder adalah karya-karya ilmiah lain yang berkaitan dengan objek formal dan objek material penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif melalui metode interpretatif, dengan menggunakan pendekatan dilâlat al-alfâz dalam usûl al-fiqh, semantik, dan hermeneutik. Semua pendekatan disinergikan untuk mendapatkan gagasan yang komprehensif dan kontekstual.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/34725
Appears in Collections:Tesis

Files in This Item:
File SizeFormat 
ABUZAR ALGHIFARI-FU.pdf3.76 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.