Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/34723
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorSri Mulyatiid
dc.contributor.authorDita Sopia Sariid
dc.date.accessioned2017-05-03T07:16:48Z-
dc.date.available2017-05-03T07:16:48Z-
dc.date.issued2017-02-14-
dc.identifier.urihttp://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/34723-
dc.description.abstractKelurahan Banten merupakan sebuah desa yang di dalamnya terdapat dua buah rumah ibadah bersejarah yang berbeda, yaitu Masjid Agung Banten dan Vihara Avalokitesvara. Berdirinya sebuah vihara di tengah-tengah masyarakat mayoritas beragama Islam juga kawasan bersejarah kerajaan Islam Banten tidak menjadikan pemeluk agama mayoritas bersifat sombong atau bahkan melakukan hal-hal diskriminasi terhadap mereka, keduanya saling menghormati dan menghargai. Ini terjadi sejak jaman dahulu hingga sekarang. Adanya kemajemukan ini, menunjukkan bahwa dialog antar umat beragama di Kelurahan Banten terjalin sangat baik. Bangunan Vihara Avalokitesvara Banten dibangun sekitar tahun 1652, berdiri lebih dulu daripada Masjid Agung Banten. Latar belakang pembangunannya menurut warga setempat ada kaitannya dengan salah satu wali Allah, Sunan Gunung Jati yang menjunjung tinggi nilai toleransi antar umat beragama. Vihara ini mengalami perpindahan tempat ke ke Kampung Pamarican Kelurahan Banten Kecamatan Kasemen Provinsi Banten pada tahun 1774, dahulu sebelumnya berada di Desa Dermayon, sekitar 500 M arah selatan Masjid Agung Banten. Bangunan Masjid Agung Banten didirikan pada abad ke-17 beserta bangunan komponen lainnya (komplek Masjid Agung Banten) yang didirikan secara tidak bersamaan, berangsur. Ada satu komponen bangunan yang menarik perhatian para pengunjung, baik di masa lampau hingga sekarang, yaitu “menara”. Menara terletak di sebelah timur masjid itu berfungsi sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan serta tempat untuk memantau keadaan di Teluk Banten tersebut, dibangun oleh arsitek asal Cina yaitu Tjek Ban Cut, bangunannya terbuat dari batu bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Menara ini memiliki makna fungsional simbolik terhadap pembangunan Banten setelah berdiri sebagai sebuah provinsi pada tahun 2000 dan resmi dijadikan simbol atau ikon lembaga pemerintahan Provinsi Bantenid
dc.language.isoidid
dc.subjectmasjid, vihara, simbol, kerukunan, beragamaid
dc.titleMasjid dan vihara: simbol kerukunan hubungan antara islam dan buddha : studi kasus di Kelurahan Banten Kecamatan Kasemen Kota Serang Provinsi Bantenid
dc.typebachelorThesisid
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
DITA SOPIA SARI-FU.pdf3.3 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.