Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/34694
Title: Tradisi pernikahan di masyarakat payudan karangsokon guluk-guluk sumenep (kajian living hadis)
Authors: Ahmad Mahfudz
Advisors: Muhammad Zuhdi Zaini,
Keywords: Living Hadis, Pernikahan, Masjid/Mushalla
Issue Date: 17-Apr-2017
Publisher: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
Abstract: Pernikahan merupakan suatu cara yang dipilih dalam menyatukan dua pasangan yang berbeda jenis, sehingga kemudian akan menjadi media terhadap perkembangan manusia serta menghindari dari hawa nafsu. Sedangkan hadis merupakan suatu bagian yang penting bagi masyarakat karena didalamnya terungkap tentang berbagai tradisi pada masa Nabi. Salah satu tradisi pernikahan yang mengakar di Masyarakat Karangsokon adalah tentang persetujuan pernikahan yang kemudian seakan-akan mengambil hak berbicara dari seoarang anak dalam menentukan pasangannya. Serta adanya sebuah upaya untuk menentukan hari baik (Nyareh Dhinah Begus) setiap akan melangsungkan pernikahan putrinya bahkan Masjid/Mushalla yang diyakini sebagai tempat suci juga menjadi bagian untuk tempat berlangsunya pernikahan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode Living Hadis yang menggunakan pendekatan sosiologi karena yang menjadi obyek kajiannya adalah masyarakat, kemudian untuk lebih mendukung penelitian ini maka penulis menggunakan metode pengumpulan data yaitu dengan metode interview, metode observasi dan metode dokumentasi. Data yang telah terkumpul kemudian dideskripsikan secara alami dan dianalisis. Setelah penulis melakukan penelitian, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam pelaksanaan pernikahan masyarakat Karangsokon Guluk-Guluk Sumenep masih berdasar pada kepercayaan leluhur yang kemudian diimbangai dengan dasar Islam. Seperti halnya dalam persetujuan pernikahan, masyarakat merujuk terhadap hadis Nabi. Walaupun dalam hal tersebut tidak sesuai dengan yang dianjurkan dalam pengamalannya untuk meminta persetujuan. Sebab yang terjadi di Masyarakat adalah tidak meminta persetujuan, melainkan hanya memberitahukan saja (formalitas) tanpa mengindahkan pada jawaban. Sedangkan pada acara yang lain tidak demikian seperti halnya penentuan hari baik (Nyareh Dhinah Begus) dalam pelaksanaan pernikahan, dimana acara akad nikah dengan resepsi pernikahan dilakukan pada waktu yang sama. Kebiasaan masyarakat Karangsokon ini dimaknai sebagai upaya menghilangkan rasa cemas dan dapat memberikan keberkahan kepada kedua mempelai. Begitu pula dengan mushalla yang biasa dijadikan sebagai tempat pernikahan, didasari hadis nabi yang menganjurkan untuk mengumumkan pernikahan di Masjid/Mushalla. Berdasar hal itu pula diharapkana kedua menpelai akan mendapatkan keberkahan dari tempat yang oleh umat Islam dianggap sebagai tempat yang suci, sehingga kemudian akan menjadikan keluarga yang Sakinah Mawaddah Warahmah. Kata Kunci: Living Hadis, Pernikahan, Masjid/Mushalla
Description: xi, 81 hal,; 30 cm
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/34694
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
AHMAD MAHFUDZ-FUF.pdf5.98 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.