Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/34669
Title: Persetujuan mempelai perempuan dalam pernikahan perspektif hadis (kajian mukhtalîf al-hadîts)
Authors: Ririn Rindiana Dewi
Advisors: Atiyatul Ulya
Keywords: Kajian Mukhtalîf al-Hadîts
Issue Date: 26-Apr-2017
Publisher: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
Abstract: Skripsi ini meneliti tentang hadis izin mempelai perempuan yang kontradiktif yang diriwayatkan oleh Aisyah dan Ibn Abbas. Dalam riwayat Aisyah mengindikasikan adanya pemaksaan atau tanpa adanya izin dalam menikahkan perempuan. Sedangkan dalam riwayat Ibn Abbas menjelaskan adanya izin terlebih dahulu ketika ingin menikahkan perempuan. Sehingga dari penjelasan tersebut secara dzhir hadis izin mempelai perempuan berlawanan. Penelitian skripsi ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Untuk itu, digunakan bahan-bahan kepustakaan dengan sumber primer riwayat Aisyah dari Sahîh al-Bukhâri dan riwayat Ibn Abbas dari Sahîh Muslim. Sedangkan data sekundernya yaitu Syarh Sahîh al-Bukhâri, Syarh Sahîh Muslim, Syarh Sunan Abȗ Dâwȗd, Syarh Sunan at-Tirmidzî, Syarh Sunan an-Nasâ’î, dan Syarh Sunan Ibn Mâjah. Serta kitab ikhtilaf al-Hadîts karya Imâm al-Syâfi’î. Dalam mengolah data, langkah pertama yang dilakukan adalah mentakhrîj hadishadis dengan metode takhrij menurut lafadz-lafadz yang terdapat dalam hadis. Kemudian langkah kedua menggunakan teori ikhtilâf al-Hadîts. Langkah yang digunakan sebagai metode penyelesaian hadis-hadis yang bertentangan: Al-Jam’u wa al-Taufîq (Kompromi), jika jalan kompromi tidak bisa dilakukan maka Nasikh wa al-Mansukh (membatalkan salah satu dan mengamalkan yang lain), dan jika jalan Nasikh wa al-Mansukh tidak bisa dilakukan maka Tarjih (Memilih yang terkuat). Dengan Demikian, Jalan yang ditempuh oleh penulis dalam penyelesaian hadis yang mukhtalif di atas adalah menggunakan metode Tarjih dengan pendekatan Ushuliyyah yaitu kajian dalalah. Berpijak pada pembahasan yang penulis lakukan, maka penulis menyimpulkan: pertama, Riwayat Ibn Abbas lebih sesuai dengan al-Qur’an. Kedua, Pendapat ulama hadis lebih jelas mengatakan adanya izin terlebih dahulu dalam menikahkan gadis atau janda dari pada riwayat Aisyah atau hadis yang tanpa izin. Kemudian dibuktikan dengan adanya posisioning yang sangat jelas terhadap hadis yang diriwayatkan Ibn Abbas dari pada hadis yang diriwayatkan Aisyah yang dilakukan mukharij dalam penamaan judul hadis. Ketiga, setelah menggunakan kaidah Ushul Fiqh yaitu dalalah yang diriwayatkan Ibn Abbas termasuk dalam Ibaratunnas karena secara redaksi jelas hadisnya dan dalalah yang diriwayatkan Aisyah termasuk dalam Isyarah al-nâs karena tidak ada sama sekali makna yang eksplisit. Dalam tingkatannya ibarah alnâs lebih unggul dari pada isyarah al-nâs. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan penelitian penulis di atas perempuan harus diminta persetujuannya ketika akan melangsungkan pernikahan
Description: xv, 79 hal,;
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/34669
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
RIRIN RINDIANA DEWI-FUF.pdf4.28 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.