Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/32480
Title: Jam'iyyah Istijma al-Juhud li Islah al-Tarbiyyah al-Islamiyyah (GUPPI): Tajdid fi al-Tarbiyyah al-Islamiyyah an Tariq al-Siyasah?
Authors: Arief Subhan
Issue Date: 6-Sep-2016
Series/Report no.: Vol. 5, No. 3, 1998;125-154 hal.
Abstract: Pendidikan merupakan salah satu wilayah perhatian (area of concern) gerakan pembaruan islam yang berlangsung di seluruh dunia islam. Bagi tokoh-tokoh gerakan pembaruan Islam seperti Muhammad 'Abduh di Mesir dan Sayyid Ahmad Khan di Anak Benua India, pendidikan merupakan agenda utama gerakan pembaruan Islam yang mereka canangkan. Sejak awal abad ke-19 sampai awal abad ke-20 hampir di seluruh dunia lslam berdiri lembaga-lembaga pendidikan yang bercorak modern. Lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional juga mengalami transformasi. Di Anak Benua India, Sayyid Ahmad Khan mendirikan Universitas Aligarh yang sepenuhnya mengadaptasi sistem pendidikan Universitas Oxford Inggris. Di Mesir, Muhammad 'Abduh berusaha mentransformasikan Universitas al-Azhar dengan memasukkan ilmu-ilmu modern-meskipun menghadapi banyak tantangan. Kaum Muslim semakin sadar bahwa pendidikan tidak hanya merupakan Sarana strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, lebih dari itu juga merupakan media paling efektif untuk mentransmisikan ide-ide pembaruan Islam. Kesadaran yang semakin menguat itu juga tumbuh di kalangan kaum Muslim terpelajar di Indonesia. Untuk sebagian kesadaran itu disebabkan semakin intensifnya interaksi dan koneksi antara pusat-pusat studi di Timur Tengah, seperti Haramayn dan Kairo. Sebab lainnya adalah semakin kuatnya, penetrasi sistem pendidikan moderen yang dibawa pemerintah kolonial. Sejarah mencatat munculnya lembaga-lembaga pendidikan modem di Indonesia, terutama pada awal abad ke-19 dan awal abad ke-20. Penting dicatat bahwa kesadaran akan pentingnya transformasi lembaga- lembaga pendidikan Islam itu tidak hanya muncul di kalangan kaum modemis. Hal yang tak jauh berbeda juga dapat ditemukan di kalangan kaum tradisionalis, meskipun dengan latar belakang dan motif yang berbeda. Kelompok pertama ingin memodemisasikan lembaga-lembaga pendidikan Islam dengan mengadopsi sistem pendidikan Barat, sedangkan kelompok kedua merupakan cermin dan rasa khawatir terhadap semakin kuatnya pengaruh sistem pendidikan Barat di lingkungan kaum Muslim. Mereka khawatir pengaruh itu akan menenggelamkan lembaga pendidikan Islam tradisional pondok pesantren yang khas Indonesia. Dalam konteks itu, GUPPI (Gabungan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam)-yang didirikan pada 1950-an dapat diletakkan posisinya dalam sejarah pembaruan pendidikan Islam di indonesia. Dari namanya, GUPPI merupakan satu-satunya organisasi yang secara eksplisit bertujuan melakukan pembaruan pendidikan Islam. Namun, dilihat dari sisi tokoh pendirinya yang terdiri dari para pemimpin pesantren di daerah jawa Barat, dapat diduga bahwa GUPPI merupakan salah satu bentuk representasi kekhawatiran kalangan tradisional terhadap semakin kuatnya pengaruh kaum rnodemis, temrama da.lam bidang pendidikan. Organisasi kalangan tradsionalis ini tidak mengalami perkembangan berarti pada masa Orde Lama, bahkan boleh dikatakan stagnan. Baru pada masa Orde Baru, organisasi ini mengalami perkembangan pesat terutama berkaitan dengan politik Orde Baru yang ingin menggalang dukungan dari kaum Muslim tradisional. Berkat intervensi pemerintah, secara resmi GUPPI kemudian bergabung dengan Golkar, mesin politik utama pemerintah Orde Baru. Pada saat itulah GUPPI mulai dikenal di tingkat nasional. Namun, pada saat yang bersamaan terjadi tarik-menarik kepentingan antara pendidikan dan politik dalam diri pengurusnya. Pergumulan antara pendidikan dan politik dalam GUPPI menyebabkan organisasi ini kehilangan •wataknya sehagai pembaru pendidikan Islam. GUPPI bahkan lebih dikenal sebagai organisasi Golkar daripada oganisasi pembaru pendidikan yang inisiatifnya muncul dan bawah. Hal inilah yang antara lain menyebabkan organisasi merosot pengaruhnya di kalangan masyarakat. Apalagi setelah Golkar memenangkan Pemilu 1971. Setelah Pemilu, peran GUPPI mulai dikurangi pemerintah. Para pengurusnya yang dianggap “keras” digusur dari Departemen Agama• yang boleh dikatakan merupakan pusat gerakan-akses politiknya dikurangi dan sebagainya. Atas alasan itu lebih tepat kiranya GUPPI digolongkan sebagai organisasi yang lebih berarientasi politik daripada pendidikan. Saat ini meskipun GUPPI masih eksis, ia tidak lagi mewarnai dunia pendidikan.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/32480
ISSN: 02150492
Appears in Collections:Artikel

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
Arief Subhan.pdfe-Journal3.59 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.