Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/31816
Title: Hadhrami scholars in the malay-Indonesian diaspora: a preliminary study of sayyid 'uthman
Authors: Azyumardi Azra
Issue Date: 28-Jun-2016
Series/Report no.: Vol. 2, No. 2, 1995;1-33 hal.
Abstract: Belum adanya studi mendalam tentang 'ulama' Hadhrami di kepulauan Nusantara, khususnya periode setelah abad 18 pada saat emigrasi orang-orang Hadhrahmi mencapai puncaknya, adalah sesuatu yang mengherankan. Memang ada catatan-catatan mengenai 'ulama' Hadhrami tertentu, tetapi tidak banyak memberikan informasi yang memadai. Catatan tersebut biasanya hanya memuat uraian sangat singkat dan tidak utuh mengenai keberadaan serta peran 'ulama' Hadhrami dalam sejarah Islam di kepulauan ini. Tidaklah mengherankan, karena motivasi utama kedatangan sebagian besar orang-orang Hadhrami ke bagian dunia ini adalah berdagang, dan bukan menyebarkan agama. Dengan kata lain, kedatangan mereka lebih banyak didorong oleh keinginan untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan memperoleh kekayaan. Maka kalau sebagian dari mereka ini kemudian menerima posisi tertentu, seperti qadi atau imam, kemungkinan besar lebih dimotivasi oleh kepentingan ekonomi untuk mendapatkan upah ketimbang kepentingan agama. Sebagai 'ulama Hadhrami terkemuka Nusantara pada akhir abad 19 dan awal abad 20, al-Habib Sayyid 'Uthman bin 'Abd Allah bin 'Aqil bin Yahya al-'Alawi al-Husaini {1822-1913), atau Sayyid 'Uthman, bukanlah pengecualian dari kuatnya motif ekonomi-politik ini. Prestasi utamanya tidak terletak pada kehebatan karir intelektual agamanya, tetapi pada posisi pentingnya dalam administrasi pemerintah kolonial Belanda. Ia adalah mufti Batavia dan adviseur honorair (penasehat bayaran) pada pemerintah kolonial Belanda dalam urusan masyarakat Arab, yang seringkali juga mencakup masalah pribumi dan Islam pada umumnya. Ia juga kawan karib tokoh penting penasehat pemerintah kolonial dalam urusan Islam: Snouck Hurgronje, yang beranggapan bahwa Sayyid 'Uthman adalah sahabat dekat pemerintah Belanda. Meskipun Sayyid 'Uthman tidak pernah menganggap rendah orang pribumi dalam tulisan-tulisannya, ia tetap berdiri sebagai pelopor paham kemurnian keturunan sayyid. Ia menentang keras perkawinan antara sharifah dan lelaki yang bukan sayyid, baik Arab maupun non-Arab. Meskipun seorang sharifah atau walinya telah berkenan mengawinkannya dengan lelaki non-sayyid, adalah kewajiban seluruh lelaki sayyid lainnya untuk menentang pernikahan tersebut, karena seorang sharifah adalah khusus diperuntukkan bagi lelaki sayyid. Sayyid 'Uthman mengklaim bahwa seluruh sayyid dan 'ulama' di Mekkah telah sepakat bahwa perkawinan antara seorang sharifah dan lelaki non-sayyid tidak sah hukumnya (fasakh); kedua mempelai dalam perkawinan seperti ini harus dipisahkan, kalau perlu dengan cara kekerasan. Ia mengutip beberapa hadsith serta pandangan 'ulama' ahl al-bayt yang menyatakan bahwa perkawinan antara sharifah dan lelaki non-sayyid merupakan penghinaan terhadap Nabi Muhammad dan keturunannya. Hal ini akan membuat Nabi murka; dan Allah akan mengutuk mereka yang menghina Nabi. Maka 'ulama' ahl al-bayt menetapkan bahwa perkawinan antara sharifah dan non-sayyid hukumnya haram mutlaq. Masalah ini sebenarnya bukan hal yang baru dan sikap Sayyid 'Uthman sendiri juga tidak aneh. Namun tampaknya ia menjadi 'ulama' pertama yang membawa masalah ini ke dalam perbincangan agama di kepulauan ini. Dalam politik, Sayyid 'Uthman cenderung akomodasionis terhadap kekuasaan pemerintah Belanda. Sikap ini tidak aneh pada diri Sayyid 'Uthman, karena banyak kalangan Hadhrami yang juga menyetujui penguasaan wilayah Muslim oleh kekuasaan non-Muslim, termasuk negeri mereka sendiri, Hadhramawt. Kaum Hadhrami di Nusantara cenderung tidak memperdulikan penindasan Belanda terhadap Muslim pribumi, sepanjang kepentingan mereka tidak terancam. Sayyid 'Uthman terus terang menerima kolonisasi wilayah Muslim oleh non-Muslim; perhatian utamanya adalah menghindari kekacauan dan menjaga stabilitas hukum serta ketertiban. Anehnya, Sayyid 'Uthman adalah pembela gigih keberadaan Sarekat Islam (SI), gerakan protonasionalis pertama di Indonesia, yang menentang status quo posisi ekonomi-politik pemerintah kolonial. Ia beranggapan bahwa kehadiran SI telah melahirkan intensifikasi penjabaran nilai-nilai Islam; SI juga telah mendorong perkembangan pengadaan fasilitas bagi kegiatan agama dan ekonomi umat Islam; dan SI telah pula mengurangi jumlah pencuri dan perampok. Tetapi, mengapa Sayyid 'Uthman begitu gigih membela keberadaan SI, yang jelas-jelas menentang pemerintah kolonial Belanda? Mungkinkah sikapnya ini berkaitan dengan kenyataan bahwa banyak pendukung SI yang berasal dari pedagang keturunan Arab?
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/31816
ISSN: 02150492
Appears in Collections:Artikel

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
Azyumardi Azra.pdfe-Journal6.01 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.