Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/31186
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.authorKhamami Zada-
dc.date.accessioned2016-05-18T07:57:24Z-
dc.date.available2016-05-18T07:57:24Z-
dc.date.issued2016-05-18-
dc.identifier.issn23561440-
dc.identifier.urihttp://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/31186-
dc.description.abstractKewenangan Legislasi Dewan Perwakilan Daerah Dalam Reformasi Kelembagaan Perwakilan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi. Putusan Mahkamah Konstitusi mencerminkan konsepsi teoritis pembentukan DPD yang dimaksudkan dalam rangka mereformasi struktur parlemen Indonesia menjadi dua kamar (bikameral) yang terdiri atas DPR dan DPD. Dengan struktur bikameral diharapkan proses legislasi dapat diselenggarakan berdasarkan sistem double-check yang memungkinkan representasi kepentingan seluruh rakyat secara relatif dapat disalurkan dengan basis sosial yang lebih luas. DPR merupakan cermin representasi politik, sedangkan DPD mencerminkan prinsip representasi teritorial atau regional. Kewenangan legislasi DPD masih dibatasi. DPD tidak memiliki kewenangan membentuk undang-undang, meskipun dapat mengajukan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah.en_US
dc.language.isoinen_US
dc.relation.ispartofseriesVol. 2, No. 1, 2015;25-38 hal.-
dc.subjectLegislasien_US
dc.subjectDPDen_US
dc.subjectReformasi Kelembagaanen_US
dc.titleKewenangan legislasi dewan perwakilan daerah dalam reformasi kelembagaan perwakilan pasca putusan mahkamah konstitusien_US
dc.typeJournalen_US
Appears in Collections:Artikel

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
Khamami Zada.pdfe-Journal803.71 kBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.