Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/28316
Title: Kepuasan citra tubuh dan hubungannya dengan pengambilan keputusan menjadi transeksual waria
Authors: Yuanita Purwa Dewi
Keywords: Psikologi transgender, citra tubuh
Issue Date: 2009
Publisher: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Fakultas Psikologi, 2009
Abstract: Menurut Thomson (1996) citra tubuh adalah pengalaman subyektif individu tentang penampilan fisiknya baik berupa ukuran,berat badan maupun bagian-bagian tubuh lainnya, yang berisi persepsi, pikiran, perasaan dan sikap individu terhadap tubuhnya. Sementara itu kepuasan citra tubuh dibentuk oleh komponen persepsi, komponen sikap dan komponen tingkahlaku. lndividu yang puas terhadap citra tubuhnya yaitu individu yang memiliki persepsi, pikiran yang positif terhadap tubuhnya. Seorang waria yang merasa tidak puas akan keadaan tubuhnya akan melakukan pengambilan keputusan, yang mana pengambilan keputusan (decision making) menurut Janis dan Mann (1977) terbagi kedalam dua kategori pola pembuatan keputusan yang adaptif dan maladaptif. Pola pengambilan keputusan adaptif adalah pola perilaku yang sangat berhati-hati dan teliti, seperti pembuatan keputusan yang penuh kewaspadaan dan percaya diri. Sebaliknya, pola maladaptif adalah pola pengambilan keputusan yang gaga! dalam memadukan semua prasyarat pemrosesan informasi yang sangat baik. Kepanikan, pengelakan, dan rasa puas diri merupakan bagian dari pola pembuatan keputusan seperti itu. Penelitian ini ingin mengetahui: (1) Masalah - masalah apakah yang muncul sebagai waria (2) Seberapa besar kepuasan citra tubuh pada waria (3) Bila waria tidak puas dengan citra tubuhnya, apakah ini menjadi masalah besar baginya (4) Bagaimana cara waria menangani masalah citra tubuhnya (5) Apakah ada hubungan antara kepuasan citra tubuh dengan pengambilan keputusan menjadi transseksual pada waria Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara kepuasan citra tubuh dengan pengambilan keputusan pada waria menjadi transseksual. Penlitian ini dilakukan di Yayasan Srikandi Sejati (komunitas waria) JI. Pisangan Ill No:60 - Jati Negara - Jakarta Timur. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan non probabiliti sampling, untuk itu peneliti menentukan karakteristik waria yang memang sudah benar-benar seperti wanita dalam kesehariannya dengan jumlah responden 30 orang dengan menyebarkan instrumen penelitian yang berupa angket. Disain penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis penelitian korelasi. Dari hasil analisa statistik ditemukan tidak ada hubungan antara kepuasan citra tubuh dengan pengambilan keputusan menjadi transseksual waria. Pernyataan tersebut diambil berdasarkan hasil penghitungan (1) Hasil uji korelasi dengan menggunakan teknik Spearman's rho dihasilkan nilai korelasi (r) hitung sebesar -0.193, sementara nilai r tabel pada taraf signifikansi 5% dengan N 30 sebesar 0.364. Karena nilai rhitung yang didapat (-0.193) < rtabel (Sig. 5% ; N 30 = 0.364), maka hipotesis nihil (Ho) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara Citra Tubuh dengan Pengambilan Keputusan diterima. (2) Hasil penghitungan uji norrnalitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi probabilitas yang dihasilkan pada data variabel Citra Tubuh sebesar 0.001, sementara nilai siginifikansi probabilitas pada data Pengambilan Keputusan adalah sebesar 0.474. Karena nilai signifikansi probabilitas yang dihasilkan pada data variabel Citra Tubuh < 0.05, maka sebaran data pada variabel tersebut dikatakan berdistribusi tidak normal, sementara sebaran data variabel Pengambilan Keputusan berdistribusi normal, karena nilai signifikansi probabilitas yang didapat > 0.05. Didapatkan hasil tidak ada hubungan antara kepuasan citra tubuh dengan pengambilan keputusan kemungkinan dikarenakan pada penelitian yang dilakukan sekarang ini dilaksanakan di suatu yayasan dengan sampel waria, bisa saja karena para waria tersebut sudah berkumpulnya pada suatu yayasan yang diakui, maka mereka sudah lebih dapat menerima dirinya dan memiliki citra tubuh yang cukup baik sehingga tidak perlu lagi mengambil keputusan untuk menjadi transseksual.Popularitas operasi kelamin di budaya indonesia juga masih harus diteliti lagi tentang seberapa pauh para waria mengetahui informasi operasi ini. Selain itu, faktor ekonomi di kalangan waria ini juga bisa menjadi alasan mengapa mereka tidak memutuskan untuk operasi transseksual. Para waria tersebut merasa citra tubuhnya terganggu dan merasa itu sebagai masalah untuk mereka, dengan mereka ikut berada dalam suatu yayasan maka ini bisa menjadi satu pemecahan masalah tersendiri bagi mereka. Karena dalam yayasan mereka memiliki banyak teman yang sejalan, dan mirip satu dan lainnya, dapat diterima setidaknya oleh teman-teman dan mersa diakui karena berada dalam satu yayasan. Saran secara teoritis untuk penelitian yang akan datang (1)sampel diperbanyak dan diperluas tidak hanya diperuntukkan pada waria dalam suatu yayasan saja. (2) Tidak hanya melihat kepuasan citra tubuh pada waria, tetapi juga melihat apakah ada orientasi seks pada waria yang membuat mereka mengambil keputusan menjadi transseksual. Dan secara Praktisnya, (1) Untuk meminimalkan perkembangan jumlah waria, perlu disosialisasikan bagaimana meningkatkan citra tubuh yang dimiliki sebagaimana adanya, bahwa apa yang ia miliki adalah anugerah dari Tuhan sehingga tidak memenyebrang ingin menjadi gender lainnya. (2) Perlu disosialisasikan tentang bagaimana caranya meningkatkan citra tubuh pada waria, sehigga waria tersebut tidak perlu mengambil keputusan menjadi transseksual, mengingat resiko yang mungkin didapatkan apabila seseorang meakukan operasi transseksual
Description: 106 hal.; 30 cm.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/28316
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
YUANITA PURWA DEWI-FPSI.pdf2.15 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.