Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/28314
Title: Hubungan komitmen religius dengan Kemampuan mengontrol diri (self control) pada remaja
Authors: Endah Setianingsih
Keywords: Psikologi remaja
Issue Date: 2009
Publisher: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Fakultas Psikologi, 2009
Abstract: Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Seiring dengan perkembangannya, remaja dituntut bertanggung jawab untuk mengontrol dirinya sendiri dalam membimbing, mengatur dan mengarahkan perilakunya. Remaja yang memiliki komitmen religius, perilakunya akan mencerminkan dimensi-dimensi religius dan dia akan menjadikan agama sebagai peranan sentral dalam mengontrol dirinya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara Komitmen Religius dengan Kemampuan Mengontrol Diri pada Remaja. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMA Triguna Ciputat yang berjumlah 514 orang. Adapun subjek yang digunakan untuk try out sebanyak 35 orang dan subyek yang digunakan untuk penelitian sebanyak 75 orang Metode sampling yang digunakan adalah accidental sampling atau sampling kebetulan. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala komitmen religius dan skala kontrol diri dan menghitungnya menggunakan rum us product moment dari Pearson yang diolah dengan bantuan program SPSS versi 11.0. Dari hasil penghitungan korelasi diperoleh nilai r hitung < nilai r tabel (0,046 < 0,334) yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara komitmen religius dengan kemampuan mengontrol diri pada siswa-siswi SMA Triguna. Dari hasil penghitungan uji faktor,dimensi komitmen religius yang memiliki skor koefesien korelasi paling besar terhadap kontrol diri adalah dimensi penghayatan. Dimensi ini dapat menjelaskan 1,8% terhadap kontrol diri individu. Sururin (2004) mengatakan bahwa perasaan remaja kepada Tuhan bukanlah tetap atau stabil akan tetapi adalah perasaan yang tergantung pada perubahan-perubahan emosi yang sangat cepat Jika jiwa remaja dalam keadaan aman, tenteram dan tenang kadang-kadang mereka tidak merasakan kebutuhan akan Allah SWT. Sebaliknya Allah SWT dibutuhkan apabila mereka dalam keadaan gelisah, karena menghadapi musibah atau bahaya yang mengancam, ketika ia takut gagal atau mungkin merasa berdosa. Sedangkan Wagner (dalam Hurlock, 1997) mengatakan bahwa seiring dengan perkembangannya, masa remaja adalah masa dimana terjadinya "keraguan religius". lni terjadi karena ajaranajaran agama yang telah diyakininya tidak sesuai dengan realita kehidupan di lingkungan sosialnya. Remaja sangat memperhatikan penerimaan sosial dari temanteman sebayanya. Remaja merasa sangat sedih, apabila dalam pergaulan dia tidak mendapat tempat, atau kurang diperdulikan oleh teman-temannya. Maka dari itu remaja meniru apa yang dibuat, dipakai atau dilakukan oleh teman-temannya walaupun tidak sesuai dengan ajaran agamanya. Misalnya apabila anggota kelompoknya mencoba minum alkohol, obat-obat terlarang atau merokok., maka remaja cenderung mengikutinya tanpa memperdulikan perasaannya sendiri (Hurlock, 1997). Disarankan kepada Orang tua dan guru untuk menanamkan komitmen religius kepada anak-anak sedini mungkin dan mencontohkan perilaku yang sesuai dengan dimensi-dimensi religius serta bersifat protektif dalam memilih lingkungan tempat tinggal dan bersifat protektif pula terhadap pergaulan anak-anak untuk mencegah keragu-raguan religius di masa remaja. Kepada para remaja disarankan untuk bersikap terbuka terhadap orang tua ataupun guru jika ada kesulitan yang sedang dihadapi jangan segan -segan untuk berkonsultasi kepada orang tua ataupun guru di sekolah.
Description: 124 hal.; 30 cm.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/28314
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
ENDAH SETIANINGSIH-FPSI.pdf2.39 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.