Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/27337
Title: “Representasi Pelanggaran Ham Di Indonesia Dalam Program Dokumenter Televisi” (Analisis Semiotik Sosial Program Melawan Lupa Di Metro Tv)
Authors: Ririn Sefrina
Advisors: Tantan Hermansah
Issue Date: 29-Jul-2015
Publisher: Jakarta: Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah, 2014
Abstract: ABSTRAK Ririn Sefrina (1110051100091) “Representasi Pelanggaran HAM di Indonesia dalam Program Dokumenter Televisi (Analisis Semiotik Sosial Program Melawan Lupa di Metro TV)” Hak Asasi Manusia adalah hak yang dimiliki setiap orang sejak ia dilahirkan. Sejak Indonesia merdeka hingga saat ini, kasus pelanggaran HAM masih saja terjadi. Tak pelak Indonesia pernah didesak dunia internasional karena diduga melakukan pembiaran terhadap tragedi Santa Cruz yang memakan banyak korban dan menjadi latar belakang berdirinya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) sebagai tumpuan bagi para korban HAM dalam menyelesaikan kasus pelanggaran HAM. Maria Katarina Sumarsih salah satu ibunda dari korban pelanggaran HAM yang menjadi koodinator aksi kamisan. Dari aksi kamisan ini, Maria bersama para korban dan keluarga korban pelanggaran HAM menuntut pemerintah untuk segera menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi pada masa lampau hingga saat ini. Realita ini yang dibahas dalam program dokumenter Melawan Lupa di Metro TV episode “Di Bawah Payung Hitam”. untuk mengetahui representasi dari program ini, maka lebih tepat menggunakan pendekatan model semiotika sosial oleh M.A.K Halliday. Dari penelitian ini ingin mengetahui bagaimana medan wacana, pelibat wacana dan sarana wacana yang merepresentasikan seperti apa pelanggaran Hak Asasi Manusia pada episode “Di Bawah Payung Hitam”. Melalui observasi video ditunjang dokumen naskah yang relevan akhirnya realitas dari representasi pelanggaran HAM dapat ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia digambarkan oleh Melawan Lupa melalui video-video aksi unjuk rasa menuntut keadilan atas pelanggaran HAM dari aksi kamisan, unjuk rasa penyelesaian kasus pembunuhan Munir, dan video tragedi kerusuhan ’98 dan tragedi Santa Cruz yang menjadi acuan bukti dari gambaran kekerasan yang menjadi penyebab terjadinya pelanggaran HAM. Selain itu visualisasi dari gambar representasi juga menggunakan gambar karikatur dan artikel tulisan pada koran yang di capture dan menjadi alat representasi bukti yang berhubungan dengan isu HAM. Medan wacana yang merujuk pada apa yang terjadi lebih menonjol pada aksi kamisan yang menggambarkan perjuangan langkah advokasi meneggakkan HAM. Narasumber dalam hal ini berperan sebagai pelibat wacana pada teks narasi berfungsi menjelaskan lebih detail apa yang ingin disampaikan oleh media Metro TV mendukung gambaran pelanggaran HAM yang terjadi. Sarana wacana yaitu gaya bahasa yang digunakan oleh Metro TV lebih menitik beratkan pada gaya bahasa deskriptif sebagai gambaran dari medan wacana/ apa yang terjadi pada gambar. Sedangkan kalimat yang mengandung gaya bahasa hiperbola mendukung ideologi dari Melawan Lupa menekankan pada urgensi dan pentingnya penyelesaian atas kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Indonesia.
Description: vii, 91 hal,; 29,5 cm.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/27337
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
RIRIN SEFRINA-FDK.pdf4.03 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.