Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/18177
Title: Efektivitas pemanfaatan al-Qardhu al-Hasan bagi pedagang kecil : studi pada BMT Husnayain Jakarta Timur
Authors: Rini Yulianti
Advisors: Euis Nurlaelawati
Publisher: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Fakultas Syariah dan Hukum, 2008
Series/Report no.: 04-018-06-0029;2439 PMH s
Abstract: Dampak krisis ekonomi berkepanjangan yang melanda negeri Indonesia hampir dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Meskipun besar kecilnya dampak tersebut berlainan antar lapisan masyarakat. Namun bagi masyarakat di lapisan bawah, dampak yang paling dirasakan adalah menurunnya daya beli karena hargaharga kebutuhan pokok meningkat dari harga sebelum krisis terjadi. Bagi masyarakat pelaku ekonomi rakyat/pengusaha mikro yang bergerak dalam penyediaan kebutuhan pokok (bisnis retail) krisis ekonomi tidaklah menghancurkan usaha mereka, namun bagi pelaku yang bergerak dalam usaha di luar kebutuhan pokok, dampak krisis ekonomi lebih terasa dengan menurunnya omzet mereka. Di sisi lain, lembaga-lembaga keuangan yang bergerak dalam skala makro (perbankan nasional), hampir berjatuhan satu persatu diterpa angin krisis tersebut. Dalam skala yang lebih bawah dari itu, adalah mulai jatuhnya Bank-Bank Perkreditan Rakyat Konvensional. Sementara Bank umum yang tidak menganut sistem bunga, semacam Bank Muamalat Indonesia (BMI), masih bisa berdiri tegar ditengah-tengah krisis tersebut. Dari segi ini, kita bisa mengajukan sebuah dugaan bahwa sistem pengelolaan keuangan yang terkait dengan sistem global, apabila menerapkan sistem syariah cenderung bisa bertahan ditengah-tengah krisis. Menengok lembaga keuangan mikro, bahwa ia lebih bisa bertahan di tengahtengah krisis faktor utamanya bukan karena ia berdasarkan syariah atau tidak, tetapi karena ia tidak berkaitan langsung dengan sistem global. Karena, LKM baik yang berlandaskan syariah, seperti BMT, ataupun konvensional (yang menerapkan sistem bunga) ada yang tumbuh berkembang di tengah-tengah krisis ada pula yang gulung tikar. Justru kunci ketangguhan LKM ditengah-tengah krisis adalah faktor manajemen saja. Siapa yang menerapkan manajemen yang baik, dialah yang akan survive. Dalam segi operasional BMT tidak lebih dari sebuah koperasi, karena ia dimiliki oleh masyarakat yang menjadi anggotanya, menghimpun simpanan anggota dan menyalurkannya kembali kepada anggota melalui produk pembiayaan/kredit. Oleh karena itu, legalitas BMT pada saat ini yang paling cocok adalah berbadan hukum koperasi. BMT dengan Baitul Maal-nya, berupaya menghimpun dana dari anggota masyarakat yang berupa zakat, infak, dan shadaqah (ZIS) dan disalurkan kembali kepada yang berhak menerimanya, ataupun dipinjamkan kepda anggota yang benarbenar membutuhkan melalui produk pembiayaan al-Qardhu al-Hasan (pinjaman kebijakan/bunga nol persen). Sementara Baitut Tamwil, berupaya menghimpun dana masyarakat yang berupa : simpanan pokok, simpanan wajib, sukarela dan simpanan berjangka serta penyertaan pihak lain, yang sifatnya merupakan kewajiban BMT untuk mengembalikannya. Dana ini diputar secara produktif/bisnis kepada para anggota dengan menggunakan pola syariah. Dalam pengembangan selanjutnya, BMT mengembangkan “triangle” yaitu, Baitul Maal, Baitut Tamwil, dan sektor riil BMT. Untuk yang ketiga ini, BMT mendirikan untuk mengoptimalkan dana masyarakat.
Description: ix, 94 p.; 28 cm.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/18177
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
RINI YULIANTI-FSH.pdf701.47 kBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.