Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/1799
Title: Batavia sebagai kota dagang pada abad XVII sampai abad XVIII
Authors: Agus Ridwiyanto
Advisors: Imas Emalia
Keywords: Batavia
Issue Date: 5-Oct-2012
Publisher: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta : Fakultas Adab Dan Humaniora, 2011
Series/Report no.: 0112-01-10989;2645 SPI a
Abstract: Pelayaran dan perdagangan di kawasan Laut Jawa telah membawa angin segar bagi pelabuhan-pelabuhan di sepanjang Pantai Utara Jawa. Namun dari kegiatan ekonomi-perdagangan yang telah berpengaruh terhadap penyebaran agama Islam di Jawa, semisal Banten, Demak, Tuban dan lain sebagainya. Kondisi ini, yang dialami oleh para pedagang di sekitar Laut Jawa. Mereka berasal dari Arab, Cina, India, Persia, Turki atau dari Asia. Hal ini, disertai penyebaran agama Islam dan adanya penguasa lokal. Hal ini, didorong dari simpati lalu-lintas Muslim dan hingga menjadi persekutuan dalam menghadapi pedagang-pedagang asing maupun dari Jawa di bidang perdagangan dan sarana transportasi. Akan tetapi, wilayah Batavia tetaplah masih eksis sejak beberapa abad yang lalu sebagai wilayah perdagangan. Pada masa awal pimpinan Jan Pierterszoon Coen, ia mencetuskan ide perluasan perdagangan, awal abad XVII. Ternyata perluasan ini membawa dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah menciptakan perluasan perdagangan di Asia Tenggara dengan ibu kota Batavia. Hal ini merupakan detik kemajuan bagi VOC (Belanda), Coen berupaya ingin merencanakan dan membangun imperium yang mempunyai nilai komersil di Asia Tenggara dengan ibu kota Batavia. Bagi Belanda sikap seperti itulah adalah upaya untuk mengontrol perdagangan atas laut. Besar kemungkinan, Batavia dianggap sebagai salah satu yang memiliki potensi besar, dan dibantu dari kekuatan Belanda. Ini merupakan detik positif. Selain dari dampak positif, juga membawa dampak negatif dalam bentuk memonopoli perdagangan, karena adanya pembatasan ruang gerak perdagangan di Asia Tenggara khususnya; di Batavia. Ditambah lagi munculnya krisis ekonomi yang berkelanjutan yang dialami oleh Cina sehingga memunculkan pemberontakan yang dilakukan oleh Cina pada tahun 1740 di sekitar Batavia (Muara Angke-Jakarta Utara). Selain, monopoli yang dilakukan Belanda menimbulkan prilaku buruk diaspek lini kehidupan. Sampai akhirnya pada tanggal 1799 VOC mengalami collapse, karena hutang-hutang Belanda mencapai 134 gulden, sampai akhirnya VOC bangkrut oleh pemerintah Belanda dan akhirnya kongsi dagang ini dibubarkan.
Description: ii, 163 hal.; 28 cm.
URI: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/1799
Appears in Collections:Skripsi

Files in This Item:
File SizeFormat 
103051-AGUS RIDWIYANTO-FAH.pdf6.11 MBAdobe PDFView/Open


Items in UINJKT-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.